Setelah dari SD Muhammadiyah Gantong perjalanan aku lanjutkan kembali. Saat itu maghrib telah tiba lalu aku melaksanakan kewajiban ibadahku di rumah adat Belitong yang berada di pusat kota Tanjungpandan.
Rumah adat Belitong sering disebut dengan rumah panggong. Rumah adatnya besar sekali dan terbuat dari kayu. Pengetahuan baru yang aku terima dari Bang Rian sang pemandu wisata itu adalah bahwa rumah adat belitong atau rumah panggong ini tidak memiliki kamar-kamar. Karena pada zaman dahulu biasanya masyarakat belitong tidur bersama satu keluarga tanpa ada kamar. Alasannya karena takut dengan hewan buas yang sewaktu-waktu masuk ke rumah. Uniknya semua dibuat dengan angka ganjil, semisal tangga depan berjumlah ganjil, jendela dan juga tiang penyanggah. Di teras depan disediakan kursi tamu, biasanya para tamu kalau datang duduk di teras depan saja. Masuk ke dalam ada ruangan luas tanpa sekat dan ruangan belakang tanpa sekat juga. Jika ada perayaan seperti pernikahan biasanya ruangan depan diisi oleh para laki-laki dan para wanita di ruangan belakang dekat dengan dapur.
Di rumah panggong yang kali ini aku masuki terdapat replika berupa baju adat perkawinan belitong lengkap dengan kamar pengantin, makanan-makanan khas belitong, tempat mas kawin, alat-alat musik tradisional dan beberapa foto sejarah. Nah, menurut Bang Rian jika seorang anak belitong menikah ia harus punya rumah dulu karena rumah adat belitong kan tidak ada kamar. Tapi kalau zaman sekarang melihat rumah-rumah masyarakat belitong sudah jarang sekali ada yang menggunakan rumah panggong. Tapi uniknya rumah masyarakat belitong sekarang ini setelah aku perhatikan adalah sebagian besar semua beratapkan seng. Rumah sebesar apapun pasti atapnya seng. Setelah aku tanyakan kepada Bang Rian mengapa tidak menggunakan genteng, beliau menjawab bahwa dahulu pada saat zaman penjajahan belanda rumah harus beratapkan seng supaya masyarakat tidak tidur siang dan harus bekerja. Karena efek panas yang timbul dari seng saat siang hari. Setelah aku perhatikan lagi rumah masyarakat belitong ini tidak melebar ke samping melainkan memanjang ke belakang.
Setelah acara doorprize dan game saatnya menyantap makan malam. Seluruh peserta travel diatur untuk duduk memanjang lalu kemudian dibagi menjadi satu kelompok yang terdiri dari empat orang. Aku bingung kok mau makan malam saja repot begini. Ternyata malam itu akan makan dengan adat khas belitong yaitu makan bedulang. Makan bedulang adalah cara makan khas belitung yang disajikan di atas nampan. Nampan yang berisi lauk pauk ditutup oleh tudung saji yang berwarna merah. Tempat nasi yang bawahnya ada empat piring kosong yang ditumpuk, empat gelas air teh hangat, 4 kue bingke. Cara makannya unik sekali di antara 4 orang dalam kelompok itu yang usianya paling muda harus mengambil piring paling bawah, lalu piring tersebut dibersihkan dengan serbet lalu diberikan kepada orang yang paling tua, begitu seterusnya sampai orang tua ketiga. Yang paling tua usianya boleh mengambil nasi dan lauk pauk lebih dulu. Aku yang memang paling muda kebagian jatah terakhir. Makannya tak menggunakan sendok dan hanya ada satu mangkuk air cuci tangan (kobokan) lagi-lagi yang paling tua yang boleh cuci tangan lebih dulu dan mengelap diserbet lebih dulu. Aku kebagian yang terakhir. Sayangnya aku lupa apa saja nama lauk yang disajikan. Makan sambil diiringi oleh musik melayu khas belitong dengan gesekan biola dan keyboard. Suasana makan malam saat itu penuh keakraban. Bahagia sekali.
Tak terasa sudah pukul 21.30, setelah kenyang menyantap makan malam seluruh peserta travel diberikan kartu atau kunci kamar hotel. Dan tujuan selanjutnya adalah Bahamas Hotel and Resort. Good night :)
Tak terasa sudah pukul 21.30, setelah kenyang menyantap makan malam seluruh peserta travel diberikan kartu atau kunci kamar hotel. Dan tujuan selanjutnya adalah Bahamas Hotel and Resort. Good night :)
| replika yang ada di rumah panggong |
| ini cuma replika. Jangan dimakan :p |
| mari makan bedulang :) |
| blur |
| with mama |
| my room 225 :) |
| Bahamas Hotel and Resort |
| depan kamar banget nih. Haha |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar