Sudah lama ku yakinkan diri sendiri bahwa aku telah melupakan laki-laki itu, tetapi begitu dia muncul, aku menyangkal semua pernyataan itu dalam hati. Aku masih menyayanginya.
"Hai."
Suara itu. Aku merindukannya. Tanpa terasa, air mata menetes, bulir bening mengalir di pipiku tanpa dapat ku hentikan. Dia menatapku, seakan menunggu jawaban, tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Yang perlu aku lakukan adalah merapatkan jarak di antara kami. Mencari keberanian itu, mengambil kesempatan itu, mengucapkan tiga kata itu. Namun, aku justru diam terpaku, tak sanggup berkata maupun berbuat apa-apa.
'Sudah lama kita terlambat. Masihkah kita punya kesempatan untuk memperbaikinya?' kataku dalam hati
"Mungkin udah terlambat untuk aku buat ngomong ini, tapi aku sayang kamu."
'aku juga sayang kamu' aku hanya menjawab dalam hati
"Maaf, waktu itu aku gak cukup kuat untuk melindungi kita."
'Maaf, karena aku yang terlebih dulu melepaskan kamu.' Kata ku dalam hati lagi
Ketika dia memelukku, aku tidak cukup kuat untuk menolaknya. Tidak cukup kuat untuk membohongi diri sendiri bahwa selama ini dia tidak berarti apa-apa untukku. Aku terisak di balik pelukannya yang hangat, menemukan satu-satunya hal yang selama ini kami cari.
"Jangan pergi lagi." Hanya itu jawaban yang dapat ku berikan padanya. Namun, jawaban itu ternyata cukup untuknya karena dia mengangguk dan mempererat pelukannya.
Ada suatu saat kita tidak dapat memilih yang terbaik. Ada suatu saat dimana kita berbuat kesalahan dan hidup dalam kenangan penuh penyesalan. Tapi saat ini, aku hanya ingin mengikuti kata hati ke manapun ia membawaku. Dan kali ini, ia membawaku menuju cinta.
-Remember When-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar