Catatan Domba Betina

Jumat, 27 Desember 2013

Ketika Cinta Melumpuhkan Logika




Kisah ini dimulai lagi dengan sejuta perubahan terjadi di hidupku. “Hidup itu memang suatu perubahan dan pasti penuh dengan kejutan.”. Memasuki dunia baru di semester baru bertemu dengan orang baru dengan karakter baru. Disisi lain dikelas itu memang ada seorang laki-laki yang cukup dekat denganku sebut saja namanya Bayu. Awalnya aku hanya menganggap biasa perlakuan yang Bayu berikan padaku. Tapi lambat laun perhatian dia amat sangat berbeda, dia mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati ku yang kuat itu. Bayu salah satu anak yang jenius dikelas, otaknya kritis dan dia mempunyai kelebihan disemua panca indranya, Ia bisa melihat kejadian yang belum terjadi atau disembunyikan oleh orang lain. Untuk menaruh hati padanya amat sangat mudah karena kepribadiannya yang sangat welcome kepada siapapun. Mungkin awalnya perasaan aku ke Bayu hanya kecelakaan kecil, karena aku sungguh tidak bisa membedakan mana yang namanya gombal atau keseriusan. Aku telan habis semua perkataan manis Bayu, perhatian manis dia hingga akhirnya aku merasakan desir-desir berbeda dihati.
Aku saat itu tahu bahwa Bayu sudah memiliki kekasih. Aku masih bisa menahan saat dia mencoba meluncurkan kalimat gombalnya ku alihkan menjadi sebuah candaan memecahkan suasana. Namun entah mengapa Ia tak juga menjauh semakin lama semakin dekat, semakin lama semakin manis saja yang aku tengguk darinya. Posisinya saat itu aku sudah lama sendiri kurang lebih setengah tahun tidak dihujani perhatian sedalam itu maka ku telan habis semua perkataan manis dia dan mulai salah mengartikan perhatiannya yang aku rasakan cinta. Saat aku melihat Bayu dan kekasihnya berdua rasanya seperti teriris, mungkin ini yang disebut cinta dan inilah rasanya cemburu.
            Berkali aku coba mengartikan apa perasaan ini dan dapat aku tarik kesimpulan bahwa ini bukan rasa yang biasa, ini cinta. Ia tak pernah absen untuk menghubungi ku setiap harinya, aku dibuat nyaman berjam-jam bercerita dengannya melalui telpon. Hingga akhirnya dia menguak semua perasaan yang Ia rasakan, diluar dugaan dia memiliki rasa yang sama dengan apa yang aku rasakan padanya. Ia kerap kali cemburu melihat aku dengan teman laki-lakiku, Ia kerap kali terdiam karena menahan rasa cemburunya. Aku dan dia memutuskan untuk menjalani diluar norma yang berlaku, saat dia memiliki kekasih dan kami menjalaninya pula, menjalani dengan segala kerahasian.
“Cinta memang bisa datang kapan saja, cinta datang karena terbiasa.” Entahlah mengapa hati ini tertarik dengan hati yang sudah dimiliki orang lain. Aku merasa nyaman dengannya dan buruknya aku mulai terbiasa dengan perhatiannya. Aku merasa takut kehilangan meski jelas-jelas aku tak dapat memilikinya. Aku mencari suaranya ketika hari dimana dia tidak meneleponku, aku mencari-cari messagenya ketika ia tidak mengirimi aku pesan teks. “Cinta bisa membuat dirimu bodoh didepan orang yang kau sukai.” Aku terlalu bodoh untuk dia yang sudah dimiliki wanita lain namun aku tak bisa mengabaikan jutaan perhatian yang Ia berikan. “Cinta membuat akal sehatmu tak berguna, melumpuhkan logika.”
Aku dan Bayu sering menghabiskan waktu berjam-jam ditelpon mengumbar kata cinta, tak berhenti mengetik pesan teks yang berisi panggilan sayang, berbagi cerita segalanya. Logika ku menyatakan bahwa itu salah namun hatiku tak bisa mengendalikan perasaan aku terhadap Bayu, aku terlalu naif jika mengabaikan Bayu. Berkali aku berpikir keras, aku temui jawabannya bahwa apa yang aku jalani dengan Bayu akan berakhir sia-sia, bahwa apa yang aku jalani dengan Bayu pada akhirnya akan melukai diriku sendiri, bahwa pada akhirnya aku yang harus mundur dari hidup Bayu, bahwa pada akhirnya jika semua terbongkar semua mencerca diriku. Namun ku ikuti kata hati, aku tetap berjalan seperti air mengalir.
                                                                        ***
Aku dan Bayu banyak menghabiskan waktu berdua, bercanda, bercerita seperti sepasang kekasih lainnya. Ia sering datang ke rumah ku untuk sekadar bertemu dan bercerita, dia mengajak keluar rumah saat malam dimana kebanyakan sepasang kekasih pergi, ya malam minggu. Sudah lama aku tak merasakannya pergi berdua dibawah langit malam bergandeng tangan menikmati lampu kota dan makan makanan kaki lima. Oh, indahnya malam mingu pertama ku dengan dia. Tak berhenti dimalam itu perjalanan cinta ku dan Bayu terus berlanjut di hari-hari berikutnya. Sampai dimana ada ide yang sangat briliant Ia menuangkan ide menggambar di tembok kamarku dan terciptalah sebuah menara Eiffel berdiri tegak di dinding kamarku dipadukan dengan warna warni yang menyala, sungguh indahnya. Salah satu mimpiku Ia wujudkan. Aku tak dapat menggambarkan apa yang aku rasa saat itu, jika ada kata yang melebihi bahagia mungkin akan aku ucapkan, aku teriakan. Tak pernah aku merasa sebahagia ini, merasa senyaman ini dengan seorang lelaki.
                                                 ***
Waktu terus berputar, hari berganti perasaan ragu sering kali menghampiri. Setiap kali kami bertemu diujung pertemuan selalu terlontar kalimat “sampai kapan kita seperti ini?”. Berkali aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini dan berkali pula aku berpikir betapa aku harus membiasakan diri nantinya tanpa Bayu, betapa aku harus mengubah ritme hatiku terhadap Bayu nantinya. Namun aku dan Bayu tak pernah benar-benar berakhir, hubungan aku dan Bayu kembali membaik lagi. “aku terlalu naif untuk mengabikanmu. I’m stuck on you..”
“it’s like reading a book over and over again when you already know how it ends.”
Hari-hari penuh cinta kembali mendera diriku. Hingga saat dimana Bayu datang ke rumahku dengan membawa setangkai mawar putih. He is so romantic person. Ia menepati janjinya. Aku langsung memeluk Bayu erat mengucapkan beribu terima kasih padanya. Begitu seterusnya kita menjalin kasih.
Kita bisa terbang bebas bersama tak melihat keadaan sekitar namun ada kalanya saat kita benar-benar diatas kita dipaksa turun ke bawah atau bahkan langsung jatuh ke bawah.  Berkali-kali kita jatuh berkali-kali kita saling membantu untuk bangun dan berjalan kembali. SAKIT! Hubungan ini diibaratkan seperti “memiliki sebuah baju baru namun disimpan terus dalam lemari.” Cinta yang penuh perjuangan.
                                                ***
            Setiap hari aku harus bersikap tegar, bersikap tak merasakan apa-apa padahal aku cemburu. Dihadapan kekasihnya aku bersikap seperti teman biasa namun dalam hatiku menumpuk rasa cemburu yang sudah teramat perih. Aku, Bayu, kekasihnya dan beberapa teman lain menghabiskan waktu pergi menonton bioskop, makan siang bersama dan aktivitas lainnya dimana aku melihat dengan jelas Bayu dan kekasihnya bermesraan tepat dihadapanku. Mereka tak tau tentang hubungan aku dan Bayu, mereka tak tahu betapa sakit yang aku rasakan.
“Jadilah selingkuhan maka kamu akan belajar caranya bersabar” –Raditya Dika via Twitter­­­-
Lelah yang aku rasakan semakin hari aku semakin mencintai Bayu, semakin sakit pula yang aku rasakan. Aku tak ingin membuat orang lain sakit karena cinta yang salah ini, aku bertekad untuk menyudahinya. Sungguh.
Bayu masih tak mempercayai kata-kataku, namun aku masih tetap pada pendirianku. Bayu akhirnya mau menyudahi, Ia hanya mengatakan “Aku sayang kamu. Maaf telah membuatmu seperti ini.”
Sungguh aku berat meninggalkan Bayu yang selama ini telah mengisi tiap lembar diary ku, buku harianku diisi oleh spidol warna-warni semenjak Bayu datang. Kini dan tentunya nanti buku diary ku diisi oleh tinta hitam lagi, tanpa cerita Bayu didalamnya. Aku tak ingin menyakiti siapapun, terutama menyakiti diriku sendiri. Biarlah aku merasakan sakitnya sekarang sebelum semuanya semakin sakit dan aku semakin tak kuasa menahan rasa sakit itu.
“orang besar itu adalah orang yang bertanggung jawab mengakui kesalahannya dan meminta maaf...”
Aku merasa sangat bersalah pada kekasih Bayu, kekasih Bayu pun sudah menyimpan curiga diantara cinta aku dan Bayu. Maka hari ini aku temui kekasih Bayu, aku melakukan hal gila. Namun tak apalah aku ingin segala masalah ini tuntas hingga bersih. Aku bertemu kekasih Bayu di suatu tempat dimana ada ketenangan disana, tak ada orang lain selain aku dan kekasih Bayu. Aku mulai memperkenalkan diriku secara resmi dengan kekasihnya. Kami duduk berhadapan, saling menatap mata layaknya 2 orang dewasa sedang menyelesaikan masalah. Ku tarik nafas panjang menenangkan diriku sendiri dan mulailah aku membuka percakapan siang itu. Aku meminta maaf kepadanya dengan tulusku. Padahal menurut salah satu penulis favoritku, Bernard Batubara pernah membahas sedikit tentang novelnya “CINTA.” Bahwa dalam kebanyakan orang menganggap bahwa dalam sebuah perselingkuhan, si selingkuhan adalah satu-satunya pihak yang patut disalahkan. Seolah-olah si pelaku selingkuh tidak bersalah karena ia sedang khilaf. Dan yang diselingkuhi sama sekali suci karena ia adalah korban. Semua pihak sama-sama bisa disalahkan.
Tak apa aku meminta maaf lebih dulu karena “Apologizing doesnt mean always mean you are wrong and the other person right. It just means you value relationship more than ego.” –Andrei Aksana-
“aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan pacarmu...” Kata-kata terakhir aku diujung kisahku dengan Bayu. Menyakitkan. Sampai saat ini aku masih berteman baik dan sedang mencoba untuk menghilangkan rasa cintaku kepada Bayu. Do’akan J
                                                                                                           

Kamis, 12 Desember 2013

Aku tidak pernah sempat jatuh cinta, kataku kepadamu pagi itu. Kau bertanya mengapa dan aku tidak butuh waktu lama untuk menjawabnya. Karena aku hanya sementara. Kau menolak ucapanku dan merengkuhku semakin erat. Aku berkali-kali berkata kepadamu. Percuma. Aku hanya setitik embun dan menemanimu sebentar saja, setelah itu aku akan menguap, atau jatuh ke tanah dan mati. Aku mendengar kau berteriak begitu keras. Kau berkata, mengapa perpisahan kita terjadi begitu lekas.

Aku tidak tahu, kataku. Namun, beginilah seharusnya. Kau harus bisa menerima. Banyak hal indah memang hanya berlangsung untuk sementara. Kau bisa mencintai embun yang lain jika mau. Tetapi kau menolak. Kau bersikeras menginginkan aku. Kau tahu, jika saja aku punya keberanian untuk mengucapkan hal itu, aku akan berkata padamu, aku pun mau. Tetapi aku tidak bisa. Aku hanya setitik embun dan aku lahir untuk sebuah sementara.

Selamat tinggal dan terima kasih. Aku akan merindukan rengkuhan itu. Rengkuhan saat kau begitu takut kehilangan aku.

-Benzbara

Setitik Embun

Aku hanya sementara untukmu. Jangan jatuh cinta padaku.

Aku ingat, kau begitu hangat waktu itu. Entah karena demam atau hanya sedang cemburu. Namun, aku tahu pagi itu matahari terlambat datang. Entah karena apa. Mungkin semalaman ia begadang dengan teman-temannya atau menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Aku tidak sembarangan menebak, karena sebenarnya hal tersebut sudah menjadi rahasia umum. Tetapi kau belum tahu, sebab kau tampak terkejut saat aku bercerita tentang hal itu kepadamu.

Kau tahu kan, yang berada di langit hanya mencintai yang di langit pula?
Setelah aku mengucapkan itu, kau mendesah lesu dan mengomeli dirimu sendiri. Kau bilang, seharusnya kau sadar bahwa kau tidak pernah sekalipun menjadi hal yang menarik baginya selama ini. Kau hanya mengaguminya dari permukaan bumi dan perasaan kalian hanya muncul di satu sisi. Hanya disisimu.

Cinta bertepuk sebelah tangan? Aku mendapatkan istilah itu dari embun tetangga di ranting sebelah. Aku tahu kau sangat mengerti, sebab kau mengangguk-anggukan kepalamu, membuat tubuhku terguncang-guncang. Hampir saja aku jatuh, sebelum akhirnya kau dengan sigap meraih dan merengkuhku.

Rengkuhan pertamamu itu, rengkuhan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Dan terus terang, aku menikmatinya.

-Benzbara

Kepada Daun

Sebagai setitik embun, tak ada yang bisa ku berikan selain sejuk tubuh rapuhku.
Aku akan segera mati, cintailah embun yang lain

-Benzbara

Tepian Daun

Kau tahu aku mencintaimu. Karena itu aku mengikhlaskanmu.

Aku ingat, aku begitu hangat waktu itu. Entah karena demam atau hanya sedang cemburu. Mungkin juga patah hati. Aku juga tidak tahu mengapa aku layak untuk patah hati. Padahal aku dan matahari tidak pernah menjalin janji apa-apa. Hubungan kami pun sebatas dua benda yang saling memberi kabar dari jauh. Kami berbicara tentang apa saja. Namun, dia, matahari yang membuatku jatuh cinta, tidak pernah bercerita apa-apa.

Ia berkata, ia dilahirkan hanya untuk menyinari. Itu saja. Selebihnya, aku tidak tahu hal lain tentang dia. Tapi aku mencintainya. Dan seseorang yang sedang jatuh cinta adalah peneliti yang mahir, bukan?
Maka, semenjak aku tahu bahwa aku jatuh hati kepada matahari yang lahir hanya untuk menyinari, aku mencari tahu tentangnya. Apapun tentang dia. Asal-usulnya, sanak familinya, kerabat-kerabatnya, teman dan sahabatnya, musuhnya. Bahkan aku mencari tahu tentang sekolahnya, kampusnya, tempat kerjanya, tempat ia menghabiskan waktunya saat istirahat dan seterusnya. Sudah ku bilang tadi, orang yang sedang jatuh cinta punya rasa penasaran yang bahkan bisa membunuh seekor harimau bengali.

Tetapi aku tidak menemukan apapun tentangnya. Tidak satupun, selain apa yang sudah ia beritahukan kepadaku. Bahwa ia matahari dan ia lahir hanya untuk menyinari.

Lalu aku mulai curiga.
Kau tahu apa yang ada dipikiranku, di pikiran setiap orang, ketika pagi berganti siang, siang menjadi sore, sore berubah petang, petang menjelma malam, dan matahari kemudian menghilang? Kemana lantas ia pergi?
Aku tidak pernah tahu ini. Dan dia membuatku penasaran setengah mati.
Sejak itu, aku mengenl bulan. Ia mirip matahari, namun tidak seterang matahari. Tentu saja. Tidak ada yang bisa mengalahkan sinar matahari yang membuat aku jatuh cinta. Tidak ada yang bisa menyainginya, meski seluruh cahaya dari alam lain berkumpul dan bersatu untuk menundukkan ia. Aku tidak bisa menemukan matahariku dimanapun, sebab aku hanya tepian daun. Aku hanya menunggu dia setiap pagi, menanti lembut sinarnya yang merayap di sekujur tubuhku. Ia tidak pernah gagal membuatku merasa nyaman dan hadir untuk menjadi teman.
Oh iya, teman. Begitu pada akhirnya ia berkata kepadaku.
"Aku hanya menganggapmu sebagai teman," salah satu dari beratus-ratus sulur cahayanya berbisik di telinga ku. "Maaf aku tidak pernah memberitahumu selama ini, tapi aku jatuh cinta kepada bulan."
Sejak itu, cahayanya, cahaya matahari yang sempat membuatku jatuh cinta, tidak lagi terasa sama. Tidak pernah terasa sama.

Aku tidak menyukai bulan. Sebab setiap ia ada, matahariku menjadi tidak ada.

Kemudian pada suatu pagi yang lain, saat aku tidak lagi menunggu matahari dan berharap tidak pernah lagi ada pagi.

-Benzbara

Kepada Embun

Sebagai tepian daun, tak ada yang bisa ku perbuat selain menjaga dan memperhatikanmu.
Jika kau ingin jatuh, jatuhlah perlahan.

Remember #3


“Undangan pernikahan siapa tuh?” Tanyanya yang mengejutkanku
“Bella.” Jawabku sambil menunjukan undangan tersebut
“Aku juga diundang kok. Dateng bareng mau gak?”
“Boleh. Kebetulan aku juga gak ada barengannya nih.”
“Nanti sore aku jemput ya ke rumah.”
“Oke.”
                                                            ***

            Terdengar suara pintu diketuk berkali-kali. Aku pun membukakan pintu tersebut dan terkejut.
“Loh? Kamu kok udah dateng aja. Aku belum rapi.”
“Kan tadi aku bilang sore aku jemput kamu.”
“Tapi kan biasanya kamu kalo mau berangkat kesini ngabarin aku.”
“Iya aku lupa charge hp. Hp-ku mati pas mau kabarin kamu dijalan tadi.”
“Yaudah aku dandan dulu ya sebentar.”
“Jangan lama ya.”
“Hehehe. Gak kok sebentar.”
“Eh iya ini buat kamu.” Dia memberikan sekotak cokelat
“Loh dalam rangka apa nih kasih cokelat segala?”
“Gak dalam rangka apa-apa, Cuma mau kasih kamu aja.”
“Makasih ya. Kamu tunggu sini dulu ya aku ganti baju dulu. Kamu bisa charge hp kamu dulu.”
“Oke.”
            Aku masuk kamar dengan membawa cokelat yang ia berikan sore itu. Baik sekali laki-laki itu. Aku segera berganti pakaian dan memoles wajahku dengan make-up sedikit. Berkali aku bercermin apakah make-up ku berlebihan atau tidak. Hape ku berdering tanda sms masuk, “ternyata begini ya nunggu perempuan dandan.” Itulah isi sms dari dia yang menungguku di ruang depan. Aku membalasnya dengan segera “Lama ya? Maaf ya. Bentar lagi keluar nih.” Memang kebiasaan tiap wanita selalu seperti itu menghabiskan banyak waktu hanya untuk berdandan dan berdiri di depan cermin. Aku semprotkan parfum favoritku lalu berjalan keluar kamar menemui dirinya yang telah lama menunggu.
“Selesai. Maaf ya lama.” Kataku sambil senyum kikuk, dia menoleh dan aku merasakan dia menatapku lama.
“Kamu kok bengong?” Tanyaku segera
“Gapapa.” Dia tersenyum
“Aku kemenoran ya?”
“Kamu cantik. Aku gak pernah liat kamu pake make-up sebelumnya.”
“Jadi kemarin aku jelek?” Aku sedikit bercanda
“Kemarin, hari ini sampai besok dan seterusnya kamu tetap cantik.”
“Ah, gombal aja. Yaudah yuk berangkat sekarang.”
“Yuk.”
“Tapi aku gak aneh kan?”
“Aneh kenapa sih? Gak kok.”
“Baju aku?”
“Long dress kamu bangus, cantik.” Ia memujiku sekali lagi.
                                                            ***
            Masih dalam perjalanan menuju gedung tempat pernikahan, kami terus berbicara.
“Emangnya kamu belum pernah nunggu cewek dandan?”
“Belum pernah. Baru sekali itu, nunggu kamu.”
“Lama ya?”
“Lumayan. Tapi hasilnya memuaskan” Katanya sambil tersenyum membuat rona di pipiku.
“Nah itu gedungnya.”
“Oke, kita sampai.”
            Aku dan dia berjalan bergandeng tangan menuju gedung tempat acara pernikahan dilangsungkan.
“Kok kamu nunduk sih jalannya?”
“Aku malu. Orang-orang kok ngeliat aku begitu banget sih. Aku aneh ya?”
“Itu karena kamu cantik. Udah jangan malu gitu, ada aku kan.” Akhirnya aku sedikit lebih percaya diri setelah genggaman tangan kita berdua ia eratkan.
            Suasana di pesta pernikahan itu cukup ramai tamu. Tak banyak berbicara lama dengan pengantin karena antrian tamu yang ingin memberi selamat kepada kedua mempelai
“Silahkan dinikmati makanannya ya.” Itu kata-kata sang pengantin setelah kami memberi ucapan selamat. Aku dan dia memutuskan untuk duduk di sudut ruangan gedung itu sambil menikmati hidangan.
“Kamu mau gak es krim?”
“Gak mau. Kamu aja.”
“Cobain dulu enak loh.” Dia menyuapiku es krim di acara itu
“Iya enak.”
“Ini adat padang ya konsepnya?” Kata dia yang terus berlanjut menyuapiku es krim itu
“Iya. Bagus ya taman pelaminannya.” Kami terdiam sejenak. Entah apa yang kami pikirkan berdua saat itu, tapi jujur aku memikirkan jika aku yang berdiri di atas pelaminan tersebut entah dengan siapa pengantin prianya. Semua orang pasti ingin merasakan hari bahagia itu.
“Kalo kita nikah mau pakai adat apa?” Pertanyaan dia membuyarkan lamunanku
“Kamu nanyanya?”
“Iya aku tanya aja. Berandai gapapa kan?”’
“Ya adat apa aja. Asal janji sehidup sematinya gak dilanggar itu aja.”
“Karena pernikahan itu janji dengan Tuhan.” Ia melanjutkan kalimatku dan menggengam erat tanganku.
“Kamu cantik banget hari ini.” Ia menutup kalimatnya

-eishafitri

Rabu, 30 Oktober 2013

Perbedaan yang membuat kita SATU II


Dua hari setelah acara marathon film di rumah Lala, Tian mengirimi aku pesan teks yang berisi bahwa ia mengajakku makan malam bersama keluarganya. Aku sangat terkejut membaca pesan itu, apa yang harus aku persiapkan untuk bertemu kedua orang tua dan adiknya. Tian berkata waktu itu “apa adanya dirimu saja. Cukup.”
Sesuai dengan janji yang ia katakan di pesan teks tersebut bahwa ia akan menjemputku pukul 18.30 setelah magrib. Usai melaksanakan ibadah 3 rakaat aku bersiap karena Tian sudah dalam perjalanan menjemputku. Tepat waktu, ya dia salah satu laki-laki yang selalu tepat waktu. Aku dan dia tak membuang waktu banyak langsung menuju rumah Tian, karena makan malam yang dijanjikan pukul 19.30. Syukur tidak terlambat malam itu. Ibu Tian yang membukakan pintu malam itu diiringi senyum manisnya, mungkin beliau agak terkejut karena aku datang mengenakan jilbab. Tak berapa lama ayah Tian keluar mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruangan keluarga, ruangan dimana mereka menghabiskan waktu menonton televisi bersama. Adiknya Tian pun ikut bersama disana, seperti biasa seorang adik terkadang bersikap dingin terhadap orang baru yang masuk dalam keluarganya. Aku merasakan hal itu, adik Tian bersikap agak dingin.
Seperti biasa pertemuan pertama pasti diawali dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar lalu diteruskan dengan pertanyaan agak mengintrogasi. Selalu seperti itu. Malam itu kedua orang tua Tian memang banyak bertanya namun suasana yang diciptakan tidak membuat tegang, jadi aku masih dengan santai namun sopan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
“Ayo kebanyakan ngobrol kapan kita makannya nih.” Ibu Tian berkata
“Oh, iya. Papa sampe keasyikan ngobrol.”
“Ayo! Kita ke meja makan. Kita makan malam bersama.”
            Aku duduk di sebelah Tian, di depanku ibu Tian dan di depan Tian adiknya. Ayah Tian sebagai kepala keluarga memimpin makan malam. Mereka berdo’a dengan cara mereka dan aku berdo’a dengan caraku.
“Ian ini.....” aku berkata kepada Tian dengan berbisik namun belum sempat aku meneruskan kalimatku Tian sudah menjawab seakan tahu apa yang ingin aku katakan
“halal kok.” Bisiknya di telingaku
Tidak sekali atau dua kali aku diajak makan bersama keluarganya, entah lah ini sudah kali keberapa aku makan bersama keluarga Tian. Namun malam ini berbeda dari malam pertama aku makan malam bersama keluarganya. Seperti biasa setelah makan dan membersihkan meja makan aku duduk di ruang tamu, orang tua Tian sudah izin untuk naik ke atas, sementara Tian masih berada di ruang tengah bersama adiknya. Aku sedikit mendengar apa yang Tian bicarakan dengan adiknya, karena ruangan depan dan ruang tengah tak begitu jauh jaraknya ditambah suara adiknya agak keras.
“Ka, lo yakin mau serius sama cewek itu?” Tanya adiknya
“Kenapa nanya gitu?”
“Ka, dia beda sama kita.”
“Kalau beda kenapa? Salah?” Tian tahu dengan pasti yangdikatakan adiknya itu tentang perbedaan agama
“Ka, agama kita kuat. Lo gak boleh ninggalin agama lo demi dia.”
“Hey, siapa yang mau ninggalin agama kita. Gue bilang jangan bahas ini saat ada dia. Mama Papa juga gak pernah bahas kok.”
“Iya awalnya Mama Papa setuju tapi gue yakin mereka juga gak akan setuju pada akhirnya.”
“Ah, ngomong apa sih lo dek!”
“Gue gak suka ka lo pacaran sama gadis berjilbab itu.”
“Ssstt... Jangan kenceng-kenceng kalo dia denger gimana.”
“Biar aja. Kalopun dia mau lepas jilbabnya dan masuk agama kita gara-gara cinta sama lo. Gue yakin ketika dia udah gak cinta sama lo, lo bakal ditinggalin gitu aja. Agama aja bisa dia tinggalin, gimana lo ka yang Cuma manusia biasa.”
“Tutup mulut lo dek!” Suara Tian meninggi. Aku mendengar semua percakapan Tian dan adiknya. Aku sakit sekali mendengarnya. Mataku berkaca sungguh sulit menahan bulir air yang akan keluar dari sudut mataku. Dadaku sesak. Aku segera mengambil tas dan beranjak menuju pintu dan keluar rumah Tian tanpa pamit. Tuhan, mengapa masih ada orang yang tidak bisa menerima perbedaan ini. Aku terus berjalan di halaman menuju pagar rumah Tian tak peduli gerimis turun, Tian setelah percakapan dengan adiknya langsung pergi ke ruang depan  dan mendapatkan aku tak ada di ruang depan. Dia berlari ke halaman depan melihatku keluar dengan tergesa, dia terus mengejarku hingga akhirnya ia meraih tanganku. Aku tak sempat menyeka air mataku karena tanganku sudah ia genggam. Aku tak menoleh ke arahnya, aku hanya menunduk. Dia menarik bahuku halus hingga kami saling berhadapan namun aku tetap menunduk.
“Maafin ucapan adikku. Aku tahu kamu denger semua makanya kamu langsung pergi.”
“......” Aku masih menunduk dan menangis, dia masih memegangi kedua bahu ku
“Lihat mataku, aku mohon.” Akhirnya aku menatap matanya
“Aku gak suka lihat kamu nangis.” Dia melanjutkan kalimatnya sambil menghapus air mataku
“Kita beda Ian.” Aku membuka suara dengan lirih
“Kita sama.”
“Beda. Kata-kata adikmu menyadarkan aku bahwa kita memang benar-benar beda.”
“Denger aku. Tuhan Cuma ada satu di dunia ini. Cuma cara kita menyembah saja yang beda. Kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Gak ada yang beda.”
“Ian, agama itu sesuatu yang sakral. Bagi keluargamu agamamu itu penting, begitu juga bagi keluargaku agama yang aku percaya itu penting. Bahkan untuk menikah di negara ini saja sulit jika kita beda agama. Aku gak bisa deket lagi sama kamu.”
“Aku sayang kamu. No matter what.” Dia langsung memelukku. Pelukan hangat yang tak pernah aku rasakan sebelumnya dari dia.
“Kamu tahu magnet kan?” Tanya dia sambil melepaskan pelukannya
“Tahu. Apa hubungannya dengan kita?” Kataku heran
“Magnet punya 2 buah kutub yang berbeda. Jika didekatkan kutub yang berbeda mereka baru bisa nempel. Sama kayak kita karena kita beda makanya kita dekat. Ngerti yang aku bilang?”
Aku menggangguk pasti. Dia tersenyum sambil mengelus lembut kepalaku.
“Kita jalani apa yang kita yakini.” Gerimis malam ini menjadi saksi betapa perbedaan jangan dijadikan alasan sebuah perpisahan.


-@eishafitri-