Catatan Domba Betina

Selasa, 13 Agustus 2013

One Day

Tadinya saya mau cerita tentang film One Day ini di twitter tapi karena hanya berkapasitas 140 karakter jadi saya putuskan untuk ceritanyanya di blog pribadi saya. Beberapa hari yang lalu saya nonton film One Day tentang drama romance gitu. Oke gue akan cerita sedikit tentang isi filmnya.


Emma seorang gadis yang smart, dia bersahabat sama laki-laki bernama Dexter. Persahabatan mereka dimulai sejak di bangku perkuliahan, sejak wisuda mereka berdua berjanji akan terus bersama menjadi seorang sahabat dan setiap tanggal 15 Juli mereka bertemu berdua. Mereka menghabiskan waktu berdua, berlibur atau hanya sekedar telpon untuk sharing. Dexter termasuk tipikal cowok yang popular dan tampan, ia kerap kali berganti pasangan. Sedangkan Emma tidak, ia hanya berpacaran dengan rekan kerjanya. Meski keduanya saling memiliki kekasih masing-masing, tiap tanggal 15 Juli mereka selalu menyempatkan bertemu.
Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan sibuk dengan kekasihnya masing-masing. Dexter menjadi seorang presenter TV dan Emma bercita-cita menjadi seorang penulis.
20 tahun persahabatan mereka. Dexter memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya dan saat itu Emma telah putus dengan kekasihnya. Namun, pernikahan Dexter tidak berlangsung lama, istrinya berselingkuh dengan pria lain. Mereka berdua pun bercerai dan mereka memiliki 1 orang anak perempuan.
Hidup Dexter kacau setelah perceraian dengan istrinya, ia memutuskan untuk bertemu Emma dan Emma saat itu telah memiliki kekasih lagi seorang pianis. Namun, lagi hubungan Emma dan kekasihnya tak berlangsung lama, Emma saat itu telah menjadi seorang penulis. Kemudian setelah 20 tahun persahabatan mereka berdua Emma dan Dexter menyadari bahwa keduanya saling mencintai, hingga akhirnya mereka berdua menikah. Anak Dexter juga sering dititipkan  oleh istrinya dikediaman Emma dan Dexter.
Hingga suatu pagi mereka berdua bertengkar (Emma dan Dexter), Emma ingin sekali memiliki anak dari orang yang ia cintai tapi ia tak kunjung hamil. Emma hampir putus asa tapi Dexter terus menguatkan. Emma pergi ke tempat berenang dan disanalah ia sadar telah kasar pada Dexter pagi itu, ia mengirimi pesan suara kepada Dexter meminta maaf dan mengatakan bahwa ia sangan mencintainya. Saat perjalanan makan siang di suatu restoran, dimana Dexter telah menunggu terlebih dahulu disana, Emma tertabrak mobil saat mengendarai sepedanya dan meninggal. Dexter sangat terpuruk dan kacau balau hidupnya, ia kehilangan orang yang sangat dicintainya. :( Ia tidak menikah lagi semenjak Emma pergi dan Ia mengajak anak prempuannya ke tempat dimana ia dan Emma pernah datangi bersama.

Quotes :
"Whatever happens tomorrow, We've had today. And if we should bump into each other sometime in the future, well that's fine too, we'll be friends." -Emma
"I love you Dexter, so much. I just don't like you anymore." -Emma
"She made you decent and in return you made her so happy." -Ian, kekasih Emma. Saat bicara sama Dexter
"Whatever happens tomorrow, we had today. I'll always remember it." -Emma
" I'm so much better when you're around." -Dexter
"I'm alone not lonely." -Emma
" I love you Dex, I really do. I just don't like you anymore." -Emma



Minggu, 04 Agustus 2013

Putih Abu-abu

 


 
           Salah satu benda paling menarik di kamarku adalah sebuah seragam SMA yang masih tergantung rapi dengan balutan plastik di dinding kamarku. Bukan hanya sekedar seragam SMA biasa tapi seragam SMA hasil kelulusanku tahun 2010 yang penuh coretan spidol warna-warni. 3 tahun menggantung di dinding dekat gantungan koleksi tas ku yang berantakan karena terus bertambah sedangkan gantungannya tak berubah.
            Masa-masa paling indah itu masa SMA, kebanyakan orang mengatakan seperti itu dan aku setuju dengan pernyataan itu. Putih abu-abu adalah warna paling sakral di masa itu, hampir setiap hari mengenakan seragam putih abu-abu. Merasa percaya diri mengenakan seragam putih abu-abu karena itu merupakan suatu identitas tersendiri menjadi seorang anak SMA. Jujur aku bersekolah di sekolah kejuruan SMK ya setara dengan SMA, kejuruan yang aku ambil saat SMK adalah Administrasi Perkantoran atau Sekretaris. Pelajaran yang didapat banyak sekali dari mengurus surat-surat dinas sampai mengatur jadwal perjalanan seorang pimpinan atau bahkan kerap kali mendapatkan pelajaran table manner dan beauty class. Ah, kebanyakan wanita ingin sekali bersolek tapi tidak denganku saat itu. Cuek. Karena jurusanku sebagian besar diminati oleh perempuan jadi di kelas hanya ada 3 orang jagoan laki-laki. Faktanya kelas yang dipenuhi perempuan apalagi yang masih terbilang ABG lebih sulit diatur dan berisik. Kelasku sangat terkenal berisiknya namun sangat tinggi tingkat solidaritasnya. Tak tahu apa arti solidaritas zaman SMA itu apa, pernah satu kali satu kelas tak ikut mata pelajaran tambahan MTK dan dihukum lari keliling lapangan basket 5 kali putaran. Gila. Ya itulah zaman SMA. Saat dimana lebih asyik main ketimbang belajar, lebih asik ngerumpi ketimbang denger penjelasan guru, lebih asyik liatin cowok-cowok main basket ketimbang harus ngeliat buku PR. Realita.
            Peraturan demi peraturan lebih diketatkan pada setiap sekolah tak terlewati di sekolahku dulu. Peraturan mengenakan seragam putih abu-abu yang penuh dengan aturan, mengenakan kaus kaki yang tingginya hampir setara dengan kaus kaki pemain sepak bola, atau sepatu yang harus serba hitam setiap harinya. Jika seragam putih abu-abu sudah tidak layak dipakai terkadang harus rela digunting oleh guru bimbingan konseling yang kerap kali merazia kelas per kelas dengan jadwal yang tak tentu. Atau bahkan ketika datang terlambat gerbang sudah ditutup harus rela dipulangkan dan menulis nama pada buku besar catatan poin. Semua kenangan masih melekat rapi dalam ingatanku semasa SMA dulu. Tak selamanya masa SMA itu adem ayem, tenang dan biasa aja itu justru tak menarik. Ya, kenangan paling indah ya masa-masa dihukum, masa-masa dimana kebodohan yang dulu dilakukan dan sekarang ditertawakan. Bodoh. Meskipun tak selalu melulu tentang dihukum tapi sekali dua kali itu pernah terjadi.
            Beranjak ke kelas 3 semakin dewasa dan semakin rajin belajar. Apa lagi kalau bukan tentang UN yang membuat galau seluruh siswa/i kelas 3 di seluruh penjuru negeri ini. Masih setia dengan seragam abu-abu ini, selalu menemani sampai dititik penghujung akhir SMA. Seragam abu-abu ini menemani saat berangkat dan pulang meski panas atau bahkan hujan selalu setia dipakai, menjadi saksi saat mendapatkan pelajaran di kelas dan menjadi saksi saat UN betapa peluh gugupku mengalir lembut saat itu; putih abu-abu setia menemani. 3 tahun bukan perjalanan yang singkat, itu perjalanan panjang yang dilalui penuh dengan perjuangan. Saat 3 tahun ditentukan hanya dalam waktu 4 hari UN itu sangat tidak masuk di akal. Menunggu waktu kelulusan di depan layar komputer sungguh membuat tidak nafsu makan saat itu, memutuskan untuk berkumpul di depan sekolah bersama teman-teman lainnya. Dan saat yang ditunggu tiba ketika aku melihat nama dan nomor pesertaku ada dalam daftar dan nyatakan lulus. Hanya satu kata LULUS yang ditunggu dengan segala harap. Tangis dan teriakan bahagia sangat dominan saat itu, pelukan hangat dan sujud syukur dilakukan. Bahagia. Seperti kebanyakan anak SMA lainnya kelulusan hari itu dirayakan dengan corat-coret seragam SMA, bukannya aku tidak sayang padamu seragam putih abu-abu tapi ini wujud kebahagiaanku saat itu. Aku ingin kamu sedikit memiliki warna lain selain putih dan abu. Puluhan coretan kata lucu, pesan singkat dan tanda tangan digoreskan di seragamku. Indahnya. Sekarang tiap kali melihat seragam putih abu-abu yang masih menggantung rasanya ingin kembali ke masa-masa itu. Terkadang kita ingin kembali ke masa lalu dimana banyak kebahagiaan terjadi disana tapi kita sendiri tahu bahwa waktu tidak bisa diulang atau mundur kembali. Yang kita bisa lakukan hanya mengenang dan belajar dari kejadian masa lalu tersebut.





#CeritaDariKamar #Day4
@eishafitri


Sabtu, 03 Agustus 2013

Jam Tangan


Jam tangan sebagai alat penunjuk waktu di kamarku. Kamarku tak memiliki jam dinding khusus yang menggantung indah di dinding. Bukankah di ponsel memiliki penunjuk waktu juga? Iya memang ada, namun entah kebiasaan atau apa tiap aku melihat jam di ponsel aku harus mencocokannya lagi dengan jam tanganku ini.
            Aku senang sekali memberi nama pada setiap benda kesayanganku di kamar. Aku senang mereka menjadi bagian dalam keseharianku, maka dari itu aku beri nama. Aku menamainya “SILVESTER” . Karena jam tanganku berwarna silver tentu saja. Aku menemukan Silvester 3 tahun lalu, aku masih ingat tanggal 10 Juli 2010 di salah satu pusat perbelanjaan daerah Jakarta Selatan. Aku memiliki ingatan yang baik. Silvester pada saat itu tertata rapi di etalase toko yang menjual berbagai macam jam. Ia nampak bercahaya sendirian, hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam toko tersebut. Layaknya seorang pembeli aku melihat-lihat koleksi jam tangan yang lain. oh iya saat itu aku tak sendirian, aku ditemani sahabatku sejak SMP. Sahabatku itu memberiku saran “ini saja lucu” , “atau ini warnanya bagus” , “atau yang itu lagi ada potongan harga” . Aku masih dengan seksama melihat kumpulan jam tangan di dalam etalase dan lagi mataku tertuju pada jam tangan besi berwarna silver. “Ini saja koh.” Aku mengatakan kepada penjaga toko yang memang berparas oriental seperti orang China. Setelah dicoba, keinginanku untuk memiliki jam tangan itu semakin kuat dan dengan segera aku selesaikan transaksi pembayarannya kepada si penjaga toko. Aku membelinya dengan uang dari gaji pertamaku bekerja, jadilah Silvester ini salah satu benda kesayanganku.
            Baterai Silvester habis setelah 2 tahun kebersamaanku dengannya. Saat itu aku malas untuk mengganti baterainya dengan segera, aku takut Silvester mati karena baterai habis atau memang benar rusak. Namun, aku masih tetap lingkarkan Silvester di pergelangan tangan kiri ku kemanapun meskipun mati dan tak berfungsi. Acara keluarga di akhir pekan membuat aku menangis karena Silvester yang aku tinggal di atas meja ruang tamu rumah saudara ku tiba-tiba menghilang. Karena aku menangis seluruh keluarga yang hadir saat acara keluarga mencari-cari Silvester ke tiap sudut ruangan di rumah itu. Namun, Silvester tidak ditemukan. Pencarianpun berhenti karena tak ada satupun yang berhasil menemukannya. “Sudahlah, jam tangan mati aja jangan ditangisin.” Ibu ku berucap saat itu. Aku diam saja sambil sesekali menyeka air mataku. Tak berapa lama Silvester ditemukan oleh sepupuku didalam tumpukan rak sepatu. Ah, aku langsung meraihnya, mengusap debu dan melingkarkan kembali di pergelangan tangan kiri ku. Kalau ingat kejadian itu aku malu, betapa aku bersikap seperti anak kecil saat itu.
            Kini Silvester sudah 3 tahun menemaniku dan baterainya sudah aku ganti setelah acara keluarga waktu itu. Tak hanya kejadian saat acara keluargaku itu saja aku dipisahkan, bahkan baru-baru ini aku bertukar jam tangan dengan seorang teman dan Silvester menginap di pergelangan tangan yang lain selama 4 hari. Betapa hampanya pergelangan kiri ku. Kosong. Silvester sudah menjadi bagian dari keseharianku. Mandi, makan, berwudhu, berpergian bahkan tidur aku masih lingkarkan ia di pergelangan kiri ku. Terkadang sesuatu yang sudah biasa melekat dan dekat jika dipisahkan akan terasa sangat kehilangan dan kesepian.






#CeritaDariKamar #Day3
@eishafitri

Jumat, 02 Agustus 2013

CHANANA :)


Chanana namanya, bantal pisang hadiah ulang tahun ke-17 dari sahabat SMP. Sudah 4 tahun ia tidur dalam dekapanku, sudah 4 tahun ia tahu segala keluh kesah ku. Keluh kesah? Iya, aku tipe orang introvert didalam keluargaku, entahlah aku tertutup tak pernah banyak cerita. Bersama Chanana aku biasa bercerita. Ia sering kali aku peluk karena aku merasa bahagia, tapi ia juga yang sering menjadi tempat air mataku jatuh karena menangisi cinta. Ia begitu sering basah saat tengah malam, apalagi kalau bukan basah karena air mata. Aku begitu sering membenamkan diri pada Chanana. Lewat tulisan ini aku ingin meminta maaf pada Chanana, “maaf jika selama ini aku sering memberimu air mata kesedihan. Teruslah berada dalam dekapanku, temani tidurku.” . Andai Chanana mendengar, ah tapi ia hanya sebuah benda mati :’)





#CeritaDariKamar #Day2
@eishafitri

Kamis, 01 Agustus 2013

Mawar Putih

Sudah hampir 5 bulan mawar putih ini menjadi penghuni di kamarku. Awal kedatangannya ia begitu segar, begitu harum dan begitu cantik dengan pita berwarna pink yang melingkar di batangnya. Aku masih ingat ia datang ke kamarku 5 bulan yang lalu diantar oleh seorang laki-laki yang saat ini sudah menjadi bagian dari kenangan terindah dalam hidupku. Aku masih ingat betul tiap detail saat laki-laki itu datang memberiku mawar putih ini. Tak berapa lama mawar putih ini layu seiring semakin merenggangnya hubunganku dengan laki-laki itu.  Mungkin manusia bisa berubah tapi kenangan akan tetap ada selamanya. Aku masih saja tetap menyimpan mawar putih yang sudah mengering ini, biarlah aku kenang sendiri di ruangan nostalgia—kamarku. 





#CeritaDariKamar #Day1 
@eishafitri

Jumat, 26 Juli 2013

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943- Chairil Anwar


Selamat Hari Puisi Indonesia dan Selamat Ulang Tahun Chairil Anwar

Hari ini 26 Juli diperingati sebagai Hari Puisi Indonesia dan bertepatan pula dengan lahirnya Sang Maestro Puisi Indonesia siapa lagi kalo bukan Chairil Anwar. Nah! Sekarang gue mau bahas sedikit tentang Chairil Anwar :')

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara tanggal 26 Juli 1922. Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha. Ia mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang merupakan sekolah dasar untuk pribumi pada masa penjajahan Belanda. Kemudian ia meneruskan pendidikan di Meer Uitgebreid Lger Onderwijs (MULO). Saat berusia 18 tahun, ia tidak bersekolah lagi. Pada usia 15 tahun ia bertekad untuk menjadi seorang seniman. Pada usia 19 tahun, setelah kedua orang tuanya bercerai, Chairil bersama ibunya pindah ke Jakarta yang dulu masih bernama Batavia, dimana ia berkenalan dengan dunia sastra. Ia juga pandai menguasai bahasa asing seperti Inggris, Belanda dan Jerman. Ia mengisi waktunya dengan membaca karya-karya pengarang internasional.
Pada tanggal 28 April 1949 ia meninggal di usia muda yaitu usia 27 tahun karena sejumlah penyakit menimpanya. Kemudian di makamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.
Chairil telah menghasilkan begitu banyak karya sastra dan yang paling terkenal adalah AKU


Kamis, 25 Juli 2013

Barang Kesayangan

Punya barang kesayangan dan dikasih nama?? Hahaha
Itu kerjaan guekasih nama tiap beli sesuatu yang emang udah masuk daftar wish list dan bisa dibeli dengan uang sendiri. Barang kesayangan itu menurut gue sesuatu barang yang gue dapatkan atau dibeli pake uang sendiri dan jerih payah sendiri. Tapi ada benda kesayangan yang emang dikasih orang lain sebagai hadiah. Tapi disini gue mau share tentang barang-barang yang gue beli dengan uang sendiri. Gak niat mau sombong tapi siapa tau kamu termotivasi dan mulai rajin nabung! :)
1. Jam Tangan Casio. Gue kasih nama Silvester, gue beli 10 Juli 2010. Beli itu pake gaji pertama gue :)
2. Notebook ASUS. Gue kasih nama woody karena warnanya cokelat kayak kayu. Gue beli bulan September 2010 pake gaji gue juga :)
3. Blackberry Gemini White. Gue kasih nama Whity, gue beli 1 Februari 2011. Gue beli pake gaji gue juga :)
4. Camera Digital Canon. Gue kasih nama Greyson, gue beli bulan Agustus 2012. Gue beli pake gaji gue juga :)
5. Samsung Young. Gue belum kasih nama. Dikasih nyokap :)

Nah, itu dia barang-barang kesayangan gue. Nanti gue share benda-benda kesayangan yang dikasih orang lain :)

FRIENDSHIP

Seneng gak sih rasanya kalo punya sahabat? Pasti bukan seneng lagi ya bahkan bahagia yang kita rasa kalo punya sahabat yang saling ngerti, punya banyak kesamaan, dll.
Segala macem kegiatan bisa dilakukin bareng.

Sahabat jadi prioritas no.3 dalah hidup gue. Setelah Tuhan dan keluarga tentunya.
Definisi sahabat sama teman beda menurut gue. Kalo sahabat tau diri kita sampai ke akar-akarnya alias baik buruknya diri kita dia tau, sedangkan teman hanya tau baikknya kita aja. Sahabat ada saat kita happy dan tetap ada saat kita jatuh dan sulit bangkit.
Apa milih sahabat itu sesuai gender? Menurut gue gak! Baik perempuan atau laki-laki sama aja, kalo dirasa nyaman ya bisa jadi sahabat.

Oke, saat ini gue mau publikasikan sahabat gue. Salah satu cara nunjukin kalo gue sayang banget sama mereka dan gak mau pisah dari mereka :')

first of all, itu ada sahabat gue dari zaman MTs dulu. Sekitar tahun 2006 - sampai selamanya amin semoga kita masih bisa sahabatan. 6 orang termasuk gue ditanggal 14 februari 2006 menamai diri kita FLOWER. Ini nama terkenal banget deh pada zamannya :D terdiri dari : Ismi, Siska, Syifa, Fara, Nilam dan gue. Tapi seiring berjalannya waktu dan roda kehidupan terus berputar Nilam dan Fara udah jarang ketemu lagi. Tapi, gue, Ismi, Siska dan Syifa masih suka nyempetin waktu untuk ketemu. Terlebih Ismi yang sering mampir ke rumah cuma untuk curhat atau jalan bareng berdua. Kadang enaknya punya sahabat cewek tuh kalo lagi 'sehati' enak. Semisal gue dan Ismi kita berdua sama-sama putus dari pacar kita masing-masing di waktu yang hampir bersamaan dan saat itu juga kita nonton bioskop berdua dan nangis bareng di dalam studio. Hal-hal yang kaya gitu yang merekatkan persahabatan kita, kenapa? karena kita sama-sama ikut merasakan atau walau hanya sekedar menaruh perhatian lebih ke sahabat yang emang lagi butuh support kita.

Zaman SMK ada beberapa orang yang cukup dekat dengan gue tapi gue gak punya chemistry yang ciamik bareng mereka. Malah setelah lulus gue deketnya sama teman SMK yang lain. Itu si Ulan dan Arab, bukan sahabat seperti FLOWER sih, mereka sekedar temen nongkrong aja, temen hang out, temen gila, temen belanja. Mereka memang belum masuk dalam tahap sahabat sejati tapi mereka selalu ada saat gue butuh dan sebisa mungkin gue juga ada untuk mereka :)

Sahabat pas kuliah? wah, banyak!
Sama seperti zaman SMK mereka lebih enak disebut teman karena anggotanya cukup banyak makanya gue kasih nama FRIENEMIES. Itu udah solid sejak semester 1 dan alhamdulillah sampai sekarang masih suka sekadar ngumpul, gak banyak cerita tentang hidup dengan mereka, lebih banyak tawa dan becanda. Seruuuu!

Dan beruntung semester 3 gue dipertemukan dengan manusia-manusia tangguh! RANGERS FINEE
kita bukan gangster, kita sahabat! Gue, Nova, Feby, Kibo dan Irwan. 5 orang yang saling bertukar cerita hidup, saling mengerti, saling mengisi. 1 April 2013 RANGERS FINEE terbentuk, sebenernya itu bukan tanggal pasti tapi kita pake tanggal itu untuk anniv. Yap, terbilang cukup baru tapi kebersamaan kita gak kenal waktu dan sangat cocok dengan motto kita "As Long As Possible" :D


Nanti gue akan cerita detail tentang sahabat-sahabat gue itu. Well, siapapun yang kenal gue. Kalian berarti buat gue dan gue sayang kalian. Gak mandang kalian sahabat atau hanya sekadar teman. :')