Your hand fits in mine like it's made just for me
But bear this in mind, It was meant to be and I'm joining up the dots with the freckles on your cheeks
And it all makes sense to me
I know you've never loved
The crinkles by your eyes when you smile you've never loved
Your stomach or your thighs
The dimples in your back at the bottom of your spine
But I'll love them endlessly
I won't let these little things slip out of my mouth
But if I do, It's you, it's you
They add up to, I'm in love with you nnd all these little things
You can't go to bed without a cup of tea
And maybe that's the reason why you talk in your sleep
And all those conversations are the secrets that I keep though it makes no sense to me
I know you've never loved the sound of your voice on tape
You never want to know how much you weigh
You still have to squeeze into your jeans but you're perfect to me
You'll never love yourself half as much as I love you
You'll never treat yourself right darlin' but I want you to
If I let you know I'm here for you
Maybe you'll love yourself like I love you
Senin, 23 September 2013
Kamis, 19 September 2013
When I was Your Man
Same bed but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio but it don't sound the same
When our friends talk about you, all it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear your name
It all just sounds like oooooh…
Mmm, too young, too dumb to realize
That I should have bought you flowers
And held your hand
Should have gave you all my hours when I had the chance
Take you to every party cause all you wanted to do was dance
Now my baby's dancingBut she's dancing with another man
My pride, my ego, my needs, and my selfish ways
Caused a good strong woman like you to walk out my life
Now I never, never get to clean up the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
Although it hurts
I'll be the first to say that I was wrong
I know I'm probably much too late to try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he buys you flowers
I hope he buys you flowers
I hope he holds your hand
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you loved to dance
Do all the things I should have done
When I was your man
"Enak yaa kalo ada yang bilang gitu, rada nyesel-nyesel gimana gitu..."
Selasa, 13 Agustus 2013
One Day
Tadinya saya mau cerita tentang film One Day ini di twitter tapi karena hanya berkapasitas 140 karakter jadi saya putuskan untuk ceritanyanya di blog pribadi saya. Beberapa hari yang lalu saya nonton film One Day tentang drama romance gitu. Oke gue akan cerita sedikit tentang isi filmnya.
Emma seorang gadis yang smart, dia bersahabat sama laki-laki bernama Dexter. Persahabatan mereka dimulai sejak di bangku perkuliahan, sejak wisuda mereka berdua berjanji akan terus bersama menjadi seorang sahabat dan setiap tanggal 15 Juli mereka bertemu berdua. Mereka menghabiskan waktu berdua, berlibur atau hanya sekedar telpon untuk sharing. Dexter termasuk tipikal cowok yang popular dan tampan, ia kerap kali berganti pasangan. Sedangkan Emma tidak, ia hanya berpacaran dengan rekan kerjanya. Meski keduanya saling memiliki kekasih masing-masing, tiap tanggal 15 Juli mereka selalu menyempatkan bertemu.
Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan sibuk dengan kekasihnya masing-masing. Dexter menjadi seorang presenter TV dan Emma bercita-cita menjadi seorang penulis.
20 tahun persahabatan mereka. Dexter memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya dan saat itu Emma telah putus dengan kekasihnya. Namun, pernikahan Dexter tidak berlangsung lama, istrinya berselingkuh dengan pria lain. Mereka berdua pun bercerai dan mereka memiliki 1 orang anak perempuan.
Hidup Dexter kacau setelah perceraian dengan istrinya, ia memutuskan untuk bertemu Emma dan Emma saat itu telah memiliki kekasih lagi seorang pianis. Namun, lagi hubungan Emma dan kekasihnya tak berlangsung lama, Emma saat itu telah menjadi seorang penulis. Kemudian setelah 20 tahun persahabatan mereka berdua Emma dan Dexter menyadari bahwa keduanya saling mencintai, hingga akhirnya mereka berdua menikah. Anak Dexter juga sering dititipkan oleh istrinya dikediaman Emma dan Dexter.
Hingga suatu pagi mereka berdua bertengkar (Emma dan Dexter), Emma ingin sekali memiliki anak dari orang yang ia cintai tapi ia tak kunjung hamil. Emma hampir putus asa tapi Dexter terus menguatkan. Emma pergi ke tempat berenang dan disanalah ia sadar telah kasar pada Dexter pagi itu, ia mengirimi pesan suara kepada Dexter meminta maaf dan mengatakan bahwa ia sangan mencintainya. Saat perjalanan makan siang di suatu restoran, dimana Dexter telah menunggu terlebih dahulu disana, Emma tertabrak mobil saat mengendarai sepedanya dan meninggal. Dexter sangat terpuruk dan kacau balau hidupnya, ia kehilangan orang yang sangat dicintainya. :( Ia tidak menikah lagi semenjak Emma pergi dan Ia mengajak anak prempuannya ke tempat dimana ia dan Emma pernah datangi bersama.
Quotes :
"Whatever happens tomorrow, We've had today. And if we
should bump into each other sometime in the future, well that's fine
too, we'll be friends." -Emma
"I love you Dexter, so much. I just don't like you anymore." -Emma
"She made you decent and in return you made her so happy." -Ian, kekasih Emma. Saat bicara sama Dexter
"Whatever happens tomorrow, we had today. I'll always remember it." -Emma
" I'm so much better when you're around." -Dexter
"I'm alone not lonely." -Emma
" I love you Dex, I really do. I just don't like you anymore." -Emma
Minggu, 04 Agustus 2013
Putih Abu-abu
Salah
satu benda paling menarik di kamarku adalah sebuah seragam SMA yang masih
tergantung rapi dengan balutan plastik di dinding kamarku. Bukan hanya sekedar
seragam SMA biasa tapi seragam SMA hasil kelulusanku tahun 2010 yang penuh
coretan spidol warna-warni. 3 tahun menggantung di dinding dekat gantungan
koleksi tas ku yang berantakan karena terus bertambah sedangkan gantungannya
tak berubah.
Masa-masa paling indah itu masa SMA,
kebanyakan orang mengatakan seperti itu dan aku setuju dengan pernyataan itu.
Putih abu-abu adalah warna paling sakral di masa itu, hampir setiap hari
mengenakan seragam putih abu-abu. Merasa percaya diri mengenakan seragam putih
abu-abu karena itu merupakan suatu identitas tersendiri menjadi seorang anak
SMA. Jujur aku bersekolah di sekolah kejuruan SMK ya setara dengan SMA,
kejuruan yang aku ambil saat SMK adalah Administrasi Perkantoran atau
Sekretaris. Pelajaran yang didapat banyak sekali dari mengurus surat-surat
dinas sampai mengatur jadwal perjalanan seorang pimpinan atau bahkan kerap kali
mendapatkan pelajaran table manner dan beauty class. Ah, kebanyakan wanita
ingin sekali bersolek tapi tidak denganku saat itu. Cuek. Karena jurusanku
sebagian besar diminati oleh perempuan jadi di kelas hanya ada 3 orang jagoan
laki-laki. Faktanya kelas yang dipenuhi perempuan apalagi yang masih terbilang
ABG lebih sulit diatur dan berisik. Kelasku sangat terkenal berisiknya namun
sangat tinggi tingkat solidaritasnya. Tak tahu apa arti solidaritas zaman SMA
itu apa, pernah satu kali satu kelas tak ikut mata pelajaran tambahan MTK dan
dihukum lari keliling lapangan basket 5 kali putaran. Gila. Ya itulah zaman
SMA. Saat dimana lebih asyik main ketimbang belajar, lebih asik ngerumpi
ketimbang denger penjelasan guru, lebih asyik liatin cowok-cowok main basket
ketimbang harus ngeliat buku PR. Realita.
Peraturan demi peraturan lebih
diketatkan pada setiap sekolah tak terlewati di sekolahku dulu. Peraturan
mengenakan seragam putih abu-abu yang penuh dengan aturan, mengenakan kaus kaki
yang tingginya hampir setara dengan kaus kaki pemain sepak bola, atau sepatu
yang harus serba hitam setiap harinya. Jika seragam putih abu-abu sudah tidak
layak dipakai terkadang harus rela digunting oleh guru bimbingan konseling yang
kerap kali merazia kelas per kelas dengan jadwal yang tak tentu. Atau bahkan
ketika datang terlambat gerbang sudah ditutup harus rela dipulangkan dan
menulis nama pada buku besar catatan poin. Semua kenangan masih melekat rapi
dalam ingatanku semasa SMA dulu. Tak selamanya masa SMA itu adem ayem, tenang
dan biasa aja itu justru tak menarik. Ya, kenangan paling indah ya masa-masa
dihukum, masa-masa dimana kebodohan yang dulu dilakukan dan sekarang
ditertawakan. Bodoh. Meskipun tak selalu melulu tentang dihukum tapi sekali dua
kali itu pernah terjadi.
Beranjak ke kelas 3 semakin dewasa
dan semakin rajin belajar. Apa lagi kalau bukan tentang UN yang membuat galau
seluruh siswa/i kelas 3 di seluruh penjuru negeri ini. Masih setia dengan
seragam abu-abu ini, selalu menemani sampai dititik penghujung akhir SMA.
Seragam abu-abu ini menemani saat berangkat dan pulang meski panas atau bahkan
hujan selalu setia dipakai, menjadi saksi saat mendapatkan pelajaran di kelas
dan menjadi saksi saat UN betapa peluh gugupku mengalir lembut saat itu; putih
abu-abu setia menemani. 3 tahun bukan perjalanan yang singkat, itu perjalanan
panjang yang dilalui penuh dengan perjuangan. Saat 3 tahun ditentukan hanya
dalam waktu 4 hari UN itu sangat tidak masuk di akal. Menunggu waktu kelulusan
di depan layar komputer sungguh membuat tidak nafsu makan saat itu, memutuskan
untuk berkumpul di depan sekolah bersama teman-teman lainnya. Dan saat yang
ditunggu tiba ketika aku melihat nama dan nomor pesertaku ada dalam daftar dan
nyatakan lulus. Hanya satu kata LULUS yang ditunggu dengan segala harap. Tangis
dan teriakan bahagia sangat dominan saat itu, pelukan hangat dan sujud syukur
dilakukan. Bahagia. Seperti kebanyakan anak SMA lainnya kelulusan hari itu
dirayakan dengan corat-coret seragam SMA, bukannya aku tidak sayang padamu
seragam putih abu-abu tapi ini wujud kebahagiaanku saat itu. Aku ingin kamu
sedikit memiliki warna lain selain putih dan abu. Puluhan coretan kata lucu,
pesan singkat dan tanda tangan digoreskan di seragamku. Indahnya. Sekarang tiap
kali melihat seragam putih abu-abu yang masih menggantung rasanya ingin kembali
ke masa-masa itu. Terkadang kita ingin
kembali ke masa lalu dimana banyak kebahagiaan terjadi disana tapi kita sendiri
tahu bahwa waktu tidak bisa diulang atau mundur kembali. Yang kita bisa lakukan
hanya mengenang dan belajar dari kejadian masa lalu tersebut.
#CeritaDariKamar #Day4
@eishafitri
Sabtu, 03 Agustus 2013
Jam Tangan
Jam
tangan sebagai alat penunjuk waktu di kamarku. Kamarku tak memiliki jam dinding
khusus yang menggantung indah di dinding. Bukankah di ponsel memiliki penunjuk
waktu juga? Iya memang ada, namun entah kebiasaan atau apa tiap aku melihat jam
di ponsel aku harus mencocokannya lagi dengan jam tanganku ini.
Aku senang sekali memberi nama pada
setiap benda kesayanganku di kamar. Aku senang mereka menjadi bagian dalam
keseharianku, maka dari itu aku beri nama. Aku menamainya “SILVESTER” . Karena
jam tanganku berwarna silver tentu saja. Aku menemukan Silvester 3 tahun lalu,
aku masih ingat tanggal 10 Juli 2010 di salah satu pusat perbelanjaan daerah
Jakarta Selatan. Aku memiliki ingatan yang baik. Silvester pada saat itu
tertata rapi di etalase toko yang menjual berbagai macam jam. Ia nampak
bercahaya sendirian, hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam toko
tersebut. Layaknya seorang pembeli aku melihat-lihat koleksi jam tangan yang
lain. oh iya saat itu aku tak sendirian, aku ditemani sahabatku sejak SMP. Sahabatku
itu memberiku saran “ini saja lucu” , “atau ini warnanya bagus” , “atau yang
itu lagi ada potongan harga” . Aku masih dengan seksama melihat kumpulan jam
tangan di dalam etalase dan lagi mataku tertuju pada jam tangan besi berwarna
silver. “Ini saja koh.” Aku mengatakan kepada penjaga toko yang memang berparas
oriental seperti orang China. Setelah dicoba, keinginanku untuk memiliki jam
tangan itu semakin kuat dan dengan segera aku selesaikan transaksi
pembayarannya kepada si penjaga toko. Aku membelinya dengan uang dari gaji
pertamaku bekerja, jadilah Silvester ini salah satu benda kesayanganku.
Baterai Silvester habis setelah 2
tahun kebersamaanku dengannya. Saat itu aku malas untuk mengganti baterainya
dengan segera, aku takut Silvester mati karena baterai habis atau memang benar
rusak. Namun, aku masih tetap lingkarkan Silvester di pergelangan tangan kiri
ku kemanapun meskipun mati dan tak berfungsi. Acara keluarga di akhir pekan
membuat aku menangis karena Silvester yang aku tinggal di atas meja ruang tamu
rumah saudara ku tiba-tiba menghilang. Karena aku menangis seluruh keluarga
yang hadir saat acara keluarga mencari-cari Silvester ke tiap sudut ruangan di
rumah itu. Namun, Silvester tidak ditemukan. Pencarianpun berhenti karena tak ada
satupun yang berhasil menemukannya. “Sudahlah, jam tangan mati aja jangan
ditangisin.” Ibu ku berucap saat itu. Aku diam saja sambil sesekali menyeka air
mataku. Tak berapa lama Silvester ditemukan oleh sepupuku didalam tumpukan rak
sepatu. Ah, aku langsung meraihnya, mengusap debu dan melingkarkan kembali di
pergelangan tangan kiri ku. Kalau ingat kejadian itu aku malu, betapa aku
bersikap seperti anak kecil saat itu.
Kini Silvester sudah 3 tahun
menemaniku dan baterainya sudah aku ganti setelah acara keluarga waktu itu. Tak
hanya kejadian saat acara keluargaku itu saja aku dipisahkan, bahkan baru-baru
ini aku bertukar jam tangan dengan seorang teman dan Silvester menginap di
pergelangan tangan yang lain selama 4 hari. Betapa hampanya pergelangan kiri
ku. Kosong. Silvester sudah menjadi bagian dari keseharianku. Mandi, makan,
berwudhu, berpergian bahkan tidur aku masih lingkarkan ia di pergelangan kiri
ku. Terkadang sesuatu yang sudah biasa
melekat dan dekat jika dipisahkan akan terasa sangat kehilangan dan kesepian.#CeritaDariKamar #Day3
@eishafitri
Jumat, 02 Agustus 2013
CHANANA :)
Chanana
namanya, bantal pisang hadiah ulang tahun ke-17 dari sahabat SMP. Sudah 4 tahun
ia tidur dalam dekapanku, sudah 4 tahun ia tahu segala keluh kesah ku. Keluh
kesah? Iya, aku tipe orang introvert didalam keluargaku, entahlah aku tertutup
tak pernah banyak cerita. Bersama Chanana aku biasa bercerita. Ia sering kali
aku peluk karena aku merasa bahagia, tapi ia juga yang sering menjadi tempat
air mataku jatuh karena menangisi cinta. Ia begitu sering basah saat tengah
malam, apalagi kalau bukan basah karena air mata. Aku begitu sering membenamkan
diri pada Chanana. Lewat tulisan ini aku ingin meminta maaf pada Chanana, “maaf
jika selama ini aku sering memberimu air mata kesedihan. Teruslah berada dalam
dekapanku, temani tidurku.” . Andai Chanana mendengar, ah tapi ia hanya sebuah
benda mati :’)
#CeritaDariKamar #Day2
@eishafitri
Kamis, 01 Agustus 2013
Mawar Putih
Sudah hampir 5 bulan mawar putih ini menjadi
penghuni di kamarku. Awal kedatangannya ia begitu segar, begitu harum dan
begitu cantik dengan pita berwarna pink yang melingkar di batangnya. Aku masih
ingat ia datang ke kamarku 5 bulan yang lalu diantar oleh seorang laki-laki
yang saat ini sudah menjadi bagian dari kenangan terindah dalam hidupku. Aku
masih ingat betul tiap detail saat laki-laki itu datang memberiku mawar putih
ini. Tak berapa lama mawar putih ini layu seiring semakin merenggangnya
hubunganku dengan laki-laki itu. Mungkin
manusia bisa berubah tapi kenangan akan tetap ada selamanya. Aku masih saja
tetap menyimpan mawar putih yang sudah mengering ini, biarlah aku kenang
sendiri di ruangan nostalgia—kamarku.
#CeritaDariKamar #Day1
@eishafitri
#CeritaDariKamar #Day1
@eishafitri
Langganan:
Postingan (Atom)





