Aku
ingat saat aku melakukan perjalanan ke Jawa Barat beberapa bulan lalu. Saat itu
aku dan kamu sudah 2 hari tak saling memberi kabar atau lebih tepatnya aku yang
menghindar dari kamu. Saat bertemu pun kita hanya membisu, saling melempar
tatapan namun tak saling berbicara. Menahan.
Siang
itu aku masih ingat jelas, aku merasakan rindu yang begitu dahsyat padamu. 2
hari tak saling memberi kabar membuat tumpukan rasa rindu menggunung di dadaku.
Aku melihat kamu dengan jelas namun aku menahan untuk menyapa.. Menyakitkan. Aku
berlalu begitu saja ketika lewat dihadapanmu. Menyakitkan. Kamu memberi
senyuman terbaikmu namun aku abaikan, aku tolehkan pandangan ke arah lain tiap
kali kamu mencoba memberi senyum indahmu. Menyakitkan. Aku tak tau pasti apa
yang kamu rasakan saat aku membuang muka dihadapanmu, saat aku pergi berlalu
begitu saja dan saat aku tidak mengaktifan handphone selama 2 hari. Apa rasa
rindu juga menggunung di dadamu? Entahlah.
Terus
saja aku menahan untuk tidak mengaktifan handphone. Berbaring lesu di kasur
kamarku sambil menimang-nimang handphone ku, sambil sesekali melihat layar
gelap. Kadang tangan ini ingin sekali menekan tombol untuk mengaktifan tapi
hatiku berteriak “JANGAN!” . Hingga malam pikiran dan hatiku berperang.
Saat
malam tak ku duga kedua orang tuaku menyuruhku untuk segera mengemas
barang-barang. Aku sempat bertanya dan mereka menjawab “Kita ke Jawa Barat
besok pagi.” . Aku sempat berpikir untuk memilih tidak ikut namun keadaan
jiwaku seperti ini, aku butuh penyegaran, aku butuh ketenangan. Aku pun
beranjak mulai mengemasi beberapa pakaian ke dalam ransel.
***
Kami
sekeluarga telah siap pergi, beberapa tas sudah dimasukan ke dalam bagasi
mobil, orang tua ku sudah siap duduk di dalam mobil, aku masih berdiri di luar
sambil menggenggam erat handphone ku. Lagi, aku bingung. Apa aku harus
memberimu kabar atau aku pergi saja? Hingga orang tua ku memanggil menyuruhku
dengan segera masuk. Aku pun menurut dan segera masuk mobil dan meletakan
handphone ke dalam tas dengan keadaan non aktif.
6
Jam perjalanan tak terasa hingga telah masuk ke daerah pegunungan. Benar-benar
alami. Kanan kiri gunung, sawah, sungai, rumah tradisional. Tak ada kemewahan,
tak ada polusi. Sederhana dan begitu tenang. Aku suka. Aku mencoba mengaktifan
handphone namun sayang tak ada sinyal sama sekali, sekalipun providerku ternama
dan dianggap nomor satu tetap tak ada sinyal. Mungkin jawaban Tuhan agar aku
menikmati tiap menit liburan singkatku. Disinilah aku belajar tentang hidup,
belajar cara memaknai hidup, semuanya aku lihat dengan mataku sendiri. Walau
hanya 1 malam aku menginap namun semua telah membuat aku lebih tenang saat itu,
membuat aku lebih membuka mata, membuat aku lebih segar tentunya. Sebetulnya
aku ingin lebih lama belajar tentang hidup disana namun terlalu banyak
aktivitas yang harus dijalani di kehidupan normalku.
Aku
kembali pulang. Dalam perjalanan aku aktifan handphone ku dan banyak pesan
masuk, banyak yang mencariku dan salah satu nama yang mencariku dan membuatku
tersenyum adalah ada nama kamu di pesan masukku.
“Kamu
kemana?? Gak ada kabar.” “Susah banget dihubungi”
Hanya
pesan itu yang kamu kirim berulang-ulang. Aku ingat hanya membalas dengan
mengirimi kamu sebuah gambar papan nama “Garut” dan kamu langsung mengerti
pesan gambar dariku.
“Kamu
kemana aja?”
“Aku
keluar kota, maaf.”
“Susah
banget dihubunginya, handphone gak aktif. Marah sama aku?”
“Gak..
Iya, gak ada sinyal. Maaf”
“Ngambeknya
jelek ah sampe matiin handphone, gak ada kabar.”
“Aku
gak marah sama kamu, karena emang gak ada sinyal. Maaf.”
“Kamu
kan bisa kabarin pake hape siapa gitu, kabarin sekali aja juga udah cukup.”
“Iya
maaf yaa.”
“Maafin
aku juga yaa?”
“iya
sama-sama”
@eishafitri
1st June, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar