Catatan Domba Betina

Rabu, 09 April 2014

Senaaaaaangggg

Akhir-akhir ini gue ngerasa cuaca kalo siang panas banget. Ya hari ini pun begitu.
Mata kuliah hari ini full sampai jam 4 sore. Tapi tepat pukul 12.00 istirahat makan. Males keluar kelas karena cuaca yang super duper panas, lebih betah di kelas ber-AC sambil bergosip ria bareng teman-teman cewek lainnya. Tapi apa daya kekuatan suara perut lebih kuat akhirnya gue memutuskan untuk keluar kelas dan turun ke lantai 2 untuk membeli makan. Ternyata di luar lebih panas dari apa yang gue bayangkan di kelas tadi, akhirnya gue tidak makan cuma membeli es krim edisi Taylor Swift - RED yang katanya limited edtion itu. Setelah berjuang melawan pancaran sinar matahari akhirnya gue kembali ke kampus dari mini market sebelah kampus. Akses utamanya yang lebih dekat hanya pintu lobby dari gedung A.
Gue dan kedua teman gue lewat jalan itu. Tak lama memasuki gedung A yang ramai dengan mahasiswa lain tiba-tiba ada yang manggil-manggil nama gue. Gue mendengar sekali namun gue abaikan, gue tak terlalu memperhatikan sekitar. Sekali lagi suara laki-laki setengah berteriak kembali memanggil nama gue. Kini gue lihat posisi laki-laki yang sedaritadi memanggil nama gue. Laki-laki itu melambaikan tangan, gue melihatnya samar. Gue pikir ia teman semester 1, maka gue hanya tersenyum dan berlalu pergi. Gue tak melihat dengan jelas karena gue tidak memakai kaca mata. Tak berapa lama gue berniat melangkah terus melanjutkan perjalanan gue ke kelas tanpa memperdulikan siapa laki-laki itu. Laki-laki itu beranjak dari tempatnya dengan sigap dan segera menghampiri gue.
"Hey is.." Sapanya dengan senyum khasnya dan lesung di pipinya.
"Eh, hay. Hanafi." Kata gue sambil menunjuk. Ia mengulurkan tangannya. Ini baru kali ini ketemu lagi setelah lama gak ketemu dan kita hanya berkabar lewat bbm
"Gue kira lo lupa sama gue. Apa kabar?"
"Hmm, inget kok. Gue baik. Lo apa kabar?" Kata gue sambil berjabat tangan dengannya . Saat itu kedua teman gue menunggu sekitar 10 langkah dari tempat gue dan Hanafi berbincang
"Ada apa?" Kata gue bingung
"Gak ada apa-apa sih. Eh iya lo gabung di komunitas bahasa itu ya?"
"Yap.. kenapa?"
"Gapapa. Eh iya btw, gue mau belajar bahasa inggris nih." Oke perbincangan kita siang itu mengenai bahasa. Teman gue memanggil dan bertanya apakah gue masih lama berbincang dan gue hanya memberi kode agar mereka lebih dahulu pergi dan tinggalkan saja gue berdua.
"Temen lo nungguin atau lo mau buru-buru?" Kata dia sambil melihat teman gue
"Gak kok. santai aja."
Gue berbincang di depan mading tepat di depan ruang dosen. Banyak banget yang dibicarain dari tetang keinginan dia mau belajar bahasa inggris.
"Lo suka hiking?" Dia pun bertanya tentang hobi yang lagi gue sukai
"Iya.. ikut yuk."
"Kapan?"
"Mei. insya allah ke papandayan."
"Tapi gue belum pernah naik gunung tapi gue mau."
"Ya ayo. gue juga masih pemula."
"oh iya, kalo ada acara tentang kebudayaan gitu ajak gue juga dong. Kabar-kabarin lewat bbm."
"Siaaap"
Gue pun ngobrol cukup lama sambil berdiri tapi berasa enak aja ya. haha

Gak ngerti siang yang terik panas matahari itu jadi berasa adem pas tatap muka dan ngobrol bareng dia. Senyumannya bikin adem, tutur katanya kayak angin sepoi, matanya kayak air yang bening. Setelah obrolan siang sama dia, gue pun menuju kelas dengan senyum-senyum. Sampai di lift tuh semua gue senyumin sampai dosen yang gak gue kenal gue senyumin sampai akhirnya ngobrol di lift sama dosen.
Di lorong kelas gue masih senyum-senyum rasanya tuh es krim lebih manis dari biasanya. Di kelas pun gue senyum ramah ke semua.

Entah kenapa ketika suasana hati kita saat sedang dalam mood yang enak semua jadi kena efek-nya. Kayak dikasih senyum, dikasih sapaan dan pujian. Gitu juga sebaliknya ketika mood lagi berantakan semua kena imbasnya. Dijutekin, didiemin, dimarah-marahin. Ini yang gak baik. Seharusnya jika keadaan hati kita lagi gak enak jangan dilimpahin ke orang yang gak tau apa-apa. Ya, kita semua harus belajar seperti itu. Termasuk gue pribadi. :)

Minggu, 06 April 2014

Luka Masa Lalu


Aku tak pernah percaya pada cinta lagi. Tidak. Kegagalan demi kegagalan telah aku alami. Perih yang tak pernah pudar ini masih membekas di hati. Aku selalu gagal dalam hubungan percintaan, aku selalu sakit karenanya. Satu tahun aku sendiri, tidak berani untuk berkomitmen lagi. Entah sampai kapan aku seperti ini. Melihat teman dan sahabat berbahagia dengan pasangannya masing-masing terkadang timbul rasa iri di hati ini. Kapan aku temui sosok laki-laki seperti itu yang bisa membahagiakan dan terus bersama hingga pada hari bahagia yaitu pernikahan.
            Sore di hari Sabtu ini lagi dan lagi aku habiskan di cafe tak jauh dari tempat kuliahku. Sebuah cafe yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu gaduh suara pengunjung lain. Interiornya amat membuat aku jatuh cinta, bernuansa kayu. Aku senang menghabiskan waktu berjam-jam di cafe itu entah hanya untuk minum kopi sambil membaca novel atau sambil menulis. Ya, aku sangat gemar membaca dan menulis sebuah cerita pendek. “Imajinasi-mu terlalu tinggi” kata seseorang yang pernah mengisi hari-hari indahku dulu. Dia memang terkadang tak bisa menerima dunia imajinasiku ini. Handphone ku berdering tanda telpon masuk, aku lihat nama yang sedang berkedip-kedip di layar handphone-ku “Citra” . Citra adalah sahabat baikku sejak aku SMA. Saat ini aku dan dia tidak satu kampus tapi kami sering menghabiskan waktu bersama. Meskipun dia memiliki kekasih tapi dia tidak seperti orang kebanyakan. Ketika memiliki kekasih terkadang teman diabaikan. Citra tidak seperti itu, dia masih mempunyai waktu untuk bersamaku, sahabatnya ini.
“Haloo, Encit.” Begitulah aku memanggil Citra
“Lo dimana?”
“Tempat biasa.”
“Oh.” Citra sungguh sudah hafal tempat dimana aku berada sekarang
“Ada apa?”
“Inget gak janji gue minggu lalu? Yang mau kenalin lo ke seseorang.”
“Hmmm..”
“Datar banget sih jawaban lo. Hey, lo udah terlalu lama sendiri. Gue khawatir sama lo.”
“Gue masih normal kok. Gak ada yang perlu dikhawatirkan.” Kataku
“Please, sekali ini aja. Dia baik kok.”
“Encit, gue masih belum siap berkomitmen.”
“Gue gak nyuruh lo buat pacaran. Temenan aja dulu.”
“Tapi tetep aja ada tujuannya buat jadi calon pacar.”
“Batu deh.”
“Yaudah kapan?”
“Malam ini.”
“Gak bisa.”
“Gak bisa? Lo tiap malam minggu Cuma ngabisin waktu depan novel-novel ya mending ketemu sama Raka.”
“Raka?”
“Iya namanya R-A-K-A. Raka.”
“Pokoknya jangan malam ini deh. Lo atur lagi kapan.”
“Oke. Minggu siang. Gak boleh nolak lagi. Titik.”
“Tapi....” belum selesai aku berbicara telpon disebrang sana sudah ditutup. Citra selalu seperti itu setiap kali apa yang diinginkan harus dituruti. Ya, sejauh ini sih aku menurutinya dengan senang hati tapi tidak untuk yang satu ini. Raka? Terdengar familiar nama itu.
                                                            ***
            Keesokan harinya di sebuah mall di Jakarta Selatan.
“Lo dimana?” Suara Citra terdengar cempreng di ujung telpon.
“Gue di lantai 2 nih. Lo dimana?”
“Yaudah lo ke lantai 3 ya.”
“Oke.” Klik. Telpon dimatikan. Aku berjalan dengan santai menuju lantai 3. Pengunjung cukup ramai karena ini adalah hari libur.
“Naya!” Suara Citra terdengar sambil melambaikan tangan
“Hey.” Aku membalas lambaian tangan Citra
“Lama banget sih.”
“Sorry.”
“Yuk.”
“Kemana?”
“Masuk kesana. Raka udah nunggu disana.” Citra menunjuk coffee shop ternama itu.
“Bayu gak ikut?” Aku bertanya soal kekasih Citra
“Gak. Dia lagi ada urusan, tapi nanti dia jemput gue kok.” Kata Citra sambil menggiringku masuk ke coffee shop itu.
“Ka. Ini Naya.” Kata Citra menghampiri sebuah meja di pojok ruangan. Laki-laki dengan potongan rambut yang rapi mengenakan polo shirt berwarna hitam, dengan jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, menggunakan celana jeans dan sepatu kets. Parfumnya sungguh sangat kuat harumnya, Aigner Black Man. Laki-laki itu menoleh lalu berdiri mengulurkan tangannya kepadaku seraya tersenyum.“Raka.” Dia menyebutkan namanya, aku membalas uluran tangannya dan mengenalkan diriku “Naya.”
“Duduk silakan.” Raka mempersilakan aku dan Citra duduk.
“Makasih.” Kataku pelan
“Nay. Raka ini satu fakultas sama lo.” Kata Citra membuka pembicaraan
“Masa sih?”
“Iya. Aku satu fakultas sama kamu.”
“Kok gue gatau ya?” Tanyaku pada Citra sedikit berbisik
“Karena lo gak pernah memperhatikan ke sekitar lo.” Citra menjawab agak keras sehingga Raka sedikit tertawa kecil.
“Yah, Bayu udah jemput nih di bawah. Gue harus cabut sekarang. Sorry ya.” Kata Citra sambil mengecek isi tas-nya apa ada yang tertinggal atau tidak.
“Cit, lo gak lagi ngerjain gue kan kayak di sinetron-sinetron FTV?” kataku kembali berbisik ke Citra
“Gak Nay. Serius. Ini emang Bayu udah jemput.” Citra menjawab dengan berbisik pula
“Have fun ya kalian berdua. Sorry gak bisa lama.” Kata Citra berlalu pergi setelah cipika-cipiki dengan ku dan bersalaman dengan Raka. Akhirnya aku dan Raka ditinggal berdua oleh Citra. Awalnya sedikit canggung karena harus berkenalan dan mengobrol hanya berdua. Namun Raka termasuk orang yang enak diajak ngobrol. Kami membicarakan apa saja dari kampus, hoby bahkan sampai keluarga. Entahlah kenapa aku bisa langsung bisa sedekat ini dengan orang yang baru aku kenal beberapa jam yang lalu. Mungkin karena Raka memiliki hoby yang sama dengan ku atau dia memang enak dijadikan teman sharing. Ya, hanya teman. Aku tak ingin lebih dari itu.
                                                            ***
“Jadi Raka gimana Nay?” kembali Citra yang bersemangat tentang aku dan Raka
“Baik, asyik diajak ngobrolnya. Ya gitu deh.”
“Trus?”
“Apanya yang terus?”
“Ya, kelanjutannya.”
“Just friend. No more.”
“Selalu gitu deh.” Kata Citra menghela nafas panjang tanda kecewa.
            Setelah 2 bulan berkenalan pada Minggu siang itu aku dan Raka memang dekat. Raka satu fakultas denganku, jadi kami sering bertemu di kampus. Dia sering mengantarku pulang atau setiap weekend jika tidak ada kegiatan dia mengajakku pergi. Dia perhatian sekali dari hal-hal kecil sampai hal-hal yang besar. Dia selalu ada untukku. Aku jadi ingat Citra pernah berkata padaku “Udah sebaik dan seperhatian itu lo masih anggap dia teman? Dia sayang sama lo Nay, pegang omongan gue.” . Sekarang kalimat yang pernah Citra lontarkan itu terus berkeliaran dipikiranku. Aku belum siap untuk berkomitmen. Aku takut untuk memulai, aku takut luka ini kembali perih kembali meskipun bukan dengan orang yang sama tapi aku yakin rasanya sama, perih.
“Mau sampai kapan nunggu lo siap? Lo gak akan tau kalo lo gak coba. Ya kalo lo mau nunggu sampai lo siap, lo berdo’a aja semoga Raka juga masih ada saat lo siap.” Lagi dan lagi kata-kata Citra selalu membuat aku berpikir kembali.

“Loh kok bengong? Jadi pergi gak nih?” Tanya Raka membuyarkan lamunanku
“Jadi kok Ka. Mau kemana?”
“Ada tempat makan enak deket sini.”
“Oke.”
            Perjalanan malam itu tidak terlalu lama karena jalanan juga tidak begitu macet. Raka memarkirkan mobilnya. Aku melihat ke sekelilingku bertanya dalam hati dimana ini. Sebuah tempat makan yang amat romantis menurut ku. Aku dan Raka keluar dari mobil lalu masuk ke dalam restaurant itu disambut oleh seorang pelayan dan ternyata Raka telah booked tempat terlebih dahulu. Niat sekali laki-laki ini. Tak salah dugaanku dari luar sudah terlihat romantis sekali tempat ini dan ternyata di dalamnya pun begitu. Untung aku tidak salah kostum malam ini. Raka amat sangat laki-laki bukan seperti cowok-cowok abege lain. Dia sangat dewasa dan dia tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita. Dia menarikan kursi dan mempersilakan aku duduk.
“Suka gak tempatnya?” Kata Raka yang telah duduk tepat dihadapanku
“Suka banget. Bagus dan romantis.” Kataku sedikit tersipu saat mengucapkan kata terakhir
Lalu aku dan Raka mulai memesan makanan dan minuman sambil menunggu pesanan datang aku dan Raka terlibat percakapan ringan.
“Silakan dinimkati” Seorang pramusaji menghidangkan makanan dan minuman yang kami pesan
“Terima kasih.” Kataku dengan senyum kepada pramusaji itu
Selagi menyantap hidangan makan malam itupun aku dan Raka tak habis-habisnya bercerita sampai makanan di piring aku dan Raka habis.
“Nay.” Panggil Raka lembut setelah makanan di piring kami habis
“Kenapa? Kamu mau minta nambah?” Kataku sedikit bercanda
“Kamu nih.” Dia tersenyum kecil namun tak berapa lama wajahnya kembali serius
“Kenapa?” Aku bertanya dengan serius
“Nay, aku suka kamu saat pertama kali aku lihat kamu di kampus. Aku sudah lama memperhatikan kamu. Aku mencari tahu sedikit banyak tentang kamu. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menemui sahabatmu Citra. Kamu gak usah heran kenapa aku bisa kenal Citra dan mengapa aku tahu kalau Citra itu sahabat dekatmu, nanti akan aku jelaskan. Setelah perkenalan aku dan kamu beberapa waktu lalu aku akui rasa ini semakin bertumbuh. Aku mungkin bukan lak-laki yang pemberani karena aku meminta dikenalkan bukan mencoba berani sendiri untuk berkenalan dengan kamu, tapi itu karena aku ingin tahu lebih jauh kamu seperti apa. Saat ini yang terpenting adalah aku sayang kamu Nay. Aku ingin terus berada disisimu saat kamu senang ataupun sedih. Would you be mine?”
Aku hanya terdiam menatap Raka tak percaya. Raka menggenggam tanganku lembut
“Jawab Nay.” Pernyataan Raka membuyarkan lamunanku
“Raka aku gak nyangka ternyata kamu selama ini merhatiin aku, maaf aku gak pernah merhatiin orang disekitarku. Maaf Raka tapi aku gak bisa, aku belum bisa memulai untuk berkomitmen.” Kataku yang melepaskan genggaman lembut tangan Raka
“Kenapa? Kisah masa lalu mu?”
“Kamu tahu?”
“Iya aku tahu semua Nay. Maaf bahkan sebelum kamu cerita padaku aku sudah tahu.”
“Hatiku pernah terluka dulu bahkan lukanya masih terasa nyeri bila aku mengingatnya lagi. Aku belum siap untuk berkomitmen. Aku takut menyakiti diriku lagi ataupun menyakiti pasanganku. Aku belum bisa membuka hatiku. Aku tahu kamu sangat baik, aku masih normal, aku masih bisa menilai bahwa kamu adalah laki-laki yang baik tapi untuk saat ini maaf sekali lagi aku belum bisa.” Aku tertunduk air mataku mengembang siap jatuh. Aku memang bodoh menolak laki-laki sebaik Raka, secerdas Raka, setampan Raka hanya karena luka masa lalu yang masih terasa begitu menyakitkan.
“Nay, aku gak maksa kalau memang kamu belum siap sekarang tidak apa-apa. Aku akan menunggu sampai kamu siap berkomitmen denganku. Asal kamu izinkan aku untuk terus berada disisi mu kapanpun itu, biar aku tunjukkan kepadamu bahwa tak semua laki-laki sama seperti masa lalu mu Nay. Aku sayang sama kamu tulus dan aku gak mau menyakiti hati orang yang aku sayang.” Raka beranjak dari kursinya dan menghampiriku dan memeluk tubuhku. Orang-orang melihat kejadian malam itu dan menatap dengan heran. Namun kami tak menghiraukan. Raka berbisik sekali lagi “aku sayang kamu Naya Ramadina.” . Aku beranikan diri untu mengucap walau dengan sedikit terisak
“Aku ingin belajar menyayangimu, bantu aku.”
“Pasti.” Raka semakin mempererat pelukannya.
                                                            ***

“Setiap orang pasti memiliki luka masa lalu. Luka itu tidak pernah benar-benar mengering karena setiap kita mengingatnya luka itu akan terasa perih lagi.”
“Jangan sia-siakan orang yang dengan tulus mencintai kita hanya karena kita memiliki luka masa lalu yang amat perih. Siapa tahu orang yang mencintai kita itu datang untuk menyembuhkan luka.”

Jumat, 28 Maret 2014

Cinta Bisa Kadaluarsa


Ini yang gue gak suka dari hubungan pacaran atau relationship yaitu PERTENGKARAN.
Entah kenapa gue tidak suka bertengkar, gue tidak suka berdebat hingga urat naik dan akhir dari bertengkar adalah menangis. Gue benci, gue gak suka itu. Gue sudah terlalu banyak melihat orang bertengkar. Dari nyokap gue bertengkar dengan bokap, teman gue sendiri bertengkar dengan pacarnya atau bahkan gue melihat orang yang gak gue kenal bertengkar dengan pacarnya di jalan. Kebanyakan orang mengatakan bahwa pertengkaran wajar adanya dalam setiap hubungan. Mungkin gue bisa mengamini pernyataan tadi tapi tetap saja gue tidak suka betengkar.

Gue paling tidak bisa dibentak sedikitpun. Gue sensitif? Iya, gue terlalu perasa untuk hal-hal itu. Gue ingin pasangan gue bisa mengerti gue, gue egois memang tapi setidaknya dia bisa tau cara memberitahu yang baik sesuai keinginan gue tanpa harus membuat air mata gue keluar.
Gue tidak menganggap diri gue benar, menganggap diri gue tidak melakukan kesalahan apapun. Gue manusia biasa, gue bukan dewa, gue kerap kali membuat kesalahan yang kecil atau yang besar. Mungkin adanya pertengkaran karena kedua belah pihak melihat masalah tersebut dari sisi yang berbeda jadilah kesalahpahaman yang tidak berujung. Menurut gue benar tapi menurut dia salah, begitu juga sebaliknya.
Bulan pertama pacaran semua manis tapi masuk bulan selanjutnya manisnya ilang jadi asem.
Mungkin benar yang dikatakan Raditya Dika bahwa cinta bisa kadaluarsa. Awalnya kita menganggap dia beda dari yang lain. Dia bisa membuat hari-hari gue manis penuh cinta tapi setelah dijalani akhirnya bertengkar juga dan PUTUS. Itulah yang dimaksud dengan cinta bisa kadaluarsa. Entah dapat ilham darimana Raditya Dika bisa mengemukakan teori seperti itu dan menurut gue bener sih. Gue capek kayak gini terus. Apa gue yang salah cara mencintainya atau gue belum siap berkomitemn? Mungkin gue belum cukup dewasa dan gue egois. IYA.

Terima kasih.

Senin, 10 Maret 2014

entah seberapa rumit kenangan bisa kau buat sebelum aku lupa bagaimana caranya mengingat.
aku tak bisa lagi melafalkan luka semenjak kau hapus seluruh langkah di dadaku yang telah sedemikian dalam terpahat.
tak ada yang begitu rahasia dan membingungkan dari tiap rasa kecewa sebab kita sudah bersepakat akan membunuh harapan masing-masing. dari yang terkecil. dari yang paling samar.
entah seberapa sederhana perpisahan bisa aku jelaskan setelah kau ingat bagaimana caranya melupakan.
kau begitu fasih mengeja setiap kesalahan semenjak kita bertemu untuk mempelajari apa saja yang pernah kutulis di hatimu.
selalu ada yang tersembunyi dan terlewat dari tiap perbincangan sebab kita tak pernah berjanji untuk memahami masa lalu dan sejarah pilu masing-masing. dari yang pernah terucap. dari yang masih tersimpan.
mari bertaruh luka di meja ini dan lihat siapa yang menang.
sebab bayangan masa depan terlalu buram sementara masa lalu di matamu begitu terang.
tak ada peluk yang cukup hangat untuk meredakan amarahku dan tak ada cium yang begitu erat untuk mengikatmu.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah genggam.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah cinta.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah rindu.
sementara sudah terlampau luka untuk menyebut kita.

Kamis, 06 Maret 2014

di tempat biasa kita bertemu, ada yang tertinggal dari setiap sesap minuman hangat, seperti ampas kopi yang pahit dan pekat, seperti bayangan luka yang begitu dekat

di tempat biasa kita bertemu, samar suaramu masih terdengar, seperti ingatan yang perlahan pudar, seperti kenangan yang menyembunyikan memar

di tempat biasa kita bertemu, ada yang tersisa dari setiap sayup suara, ada yang terlupa untuk dibawa, ada yang luput dari perhatian kita

di tempat biasa kita bertemu, ada yang belum terangkum dalam kalimatku, samar suaraku tak sampai lagi kepadamu
ada kerut kenangan terukir di dasar cangkir mengundang bibirmu yang memang bersikeras mencium ampas, sementara masa lalu tak patut lagi kita gali dan percakapan perlahan menjadi mahal.
di depanmu aku menyusun kemungkinan tapi kau membuang semua kepastian.
tak ada jarak terjauh antara dua luka kecuali perasaan tak ingin mempertahankan.
dalam hening ruang dengan dua cangkir minuman di depan kita sunyi telah mengubah diri menjadi lebam di masing-masing dada.
di depanku kau menyusun kebohongan dan aku terlalu lihai untuk tak percaya.
ada aroma kenangan di permukaan cangkir yang belum kau minum tapi wajahmu telah menolak mengingat apapun.
sebab yang sudah tak perlu kembali.
sebab yang luka tak perlu lagi.
sebab dirimu tak ingin pergi.
di permukaan mataku kau menuliskan luka, lalu memaksa bibirku yang sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata.
kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.
sementara airmata sibuk mencari jalan pulang, takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat.
aku tak mampu menulis di tanganmu sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian. kita begitu hapal cara saling menemukan tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.
di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain.
jauh dari yang tak akan kembali. jauh dari yang tak pernah terjadi.
tak ada yang berubah meski kenangan sudah berhasil kau kemas dan luka tak lagi membuatmu cemas. Sebab kepergian selalu terasa nyata dan kesepian selalu mencari teman.
Di depan cermin ada sejarah yang mengulang-ulang dirinya, memanggilmu dari kejauhan.
aku bersembunyi di sudut lain membiarkanmu menatap wajah yang selama ini bertarung dengan ragu: benarkah sejauh ini pernah ada kita di situ?

tak ada yang terganti meski ingatan tergulung rapi dan kau sudah menyediakan ruang yang lain lagi.
sebab raung yang kau peram selalu memantulkan diri setiap kali kau mulai meraba pipi: di depan cermin kau membayangkan tanganku mengusap lagi wajahmu, menyentuh kembali kenangan itu.
ada yang mengalir di pipimu tapi bukan airmata. seperti ingatan yang mencair dan mencari rumah. rindu yang pergi dan pulang ingin sekali rebah.

tak ada rumah yang kau ingat di balik cermin itu. sebab tak pernah ada kau dan aku.
bukan basah hujan begitu menakutkan, kekasih
tapi dingin kenangan betapa jauh sudah ia angkut

bukan basah hujan begitu meresahkan, kekasih
tapi rintik luka betapa ramai kini ia demikian deras

bukan basah hujan begitu memilukan, kekasih
tapi ingatan telah mengendap dan terbuka dalam setiap
tempias