Akhir-akhir ini gue ngerasa cuaca kalo siang panas banget. Ya hari ini pun begitu.
Mata kuliah hari ini full sampai jam 4 sore. Tapi tepat pukul 12.00 istirahat makan. Males keluar kelas karena cuaca yang super duper panas, lebih betah di kelas ber-AC sambil bergosip ria bareng teman-teman cewek lainnya. Tapi apa daya kekuatan suara perut lebih kuat akhirnya gue memutuskan untuk keluar kelas dan turun ke lantai 2 untuk membeli makan. Ternyata di luar lebih panas dari apa yang gue bayangkan di kelas tadi, akhirnya gue tidak makan cuma membeli es krim edisi Taylor Swift - RED yang katanya limited edtion itu. Setelah berjuang melawan pancaran sinar matahari akhirnya gue kembali ke kampus dari mini market sebelah kampus. Akses utamanya yang lebih dekat hanya pintu lobby dari gedung A.
Gue dan kedua teman gue lewat jalan itu. Tak lama memasuki gedung A yang ramai dengan mahasiswa lain tiba-tiba ada yang manggil-manggil nama gue. Gue mendengar sekali namun gue abaikan, gue tak terlalu memperhatikan sekitar. Sekali lagi suara laki-laki setengah berteriak kembali memanggil nama gue. Kini gue lihat posisi laki-laki yang sedaritadi memanggil nama gue. Laki-laki itu melambaikan tangan, gue melihatnya samar. Gue pikir ia teman semester 1, maka gue hanya tersenyum dan berlalu pergi. Gue tak melihat dengan jelas karena gue tidak memakai kaca mata. Tak berapa lama gue berniat melangkah terus melanjutkan perjalanan gue ke kelas tanpa memperdulikan siapa laki-laki itu. Laki-laki itu beranjak dari tempatnya dengan sigap dan segera menghampiri gue.
"Hey is.." Sapanya dengan senyum khasnya dan lesung di pipinya.
"Eh, hay. Hanafi." Kata gue sambil menunjuk. Ia mengulurkan tangannya. Ini baru kali ini ketemu lagi setelah lama gak ketemu dan kita hanya berkabar lewat bbm
"Gue kira lo lupa sama gue. Apa kabar?"
"Hmm, inget kok. Gue baik. Lo apa kabar?" Kata gue sambil berjabat tangan dengannya . Saat itu kedua teman gue menunggu sekitar 10 langkah dari tempat gue dan Hanafi berbincang
"Ada apa?" Kata gue bingung
"Gak ada apa-apa sih. Eh iya lo gabung di komunitas bahasa itu ya?"
"Yap.. kenapa?"
"Gapapa. Eh iya btw, gue mau belajar bahasa inggris nih." Oke perbincangan kita siang itu mengenai bahasa. Teman gue memanggil dan bertanya apakah gue masih lama berbincang dan gue hanya memberi kode agar mereka lebih dahulu pergi dan tinggalkan saja gue berdua.
"Temen lo nungguin atau lo mau buru-buru?" Kata dia sambil melihat teman gue
"Gak kok. santai aja."
Gue berbincang di depan mading tepat di depan ruang dosen. Banyak banget yang dibicarain dari tetang keinginan dia mau belajar bahasa inggris.
"Lo suka hiking?" Dia pun bertanya tentang hobi yang lagi gue sukai
"Iya.. ikut yuk."
"Kapan?"
"Mei. insya allah ke papandayan."
"Tapi gue belum pernah naik gunung tapi gue mau."
"Ya ayo. gue juga masih pemula."
"oh iya, kalo ada acara tentang kebudayaan gitu ajak gue juga dong. Kabar-kabarin lewat bbm."
"Siaaap"
Gue pun ngobrol cukup lama sambil berdiri tapi berasa enak aja ya. haha
Gak ngerti siang yang terik panas matahari itu jadi berasa adem pas tatap muka dan ngobrol bareng dia. Senyumannya bikin adem, tutur katanya kayak angin sepoi, matanya kayak air yang bening. Setelah obrolan siang sama dia, gue pun menuju kelas dengan senyum-senyum. Sampai di lift tuh semua gue senyumin sampai dosen yang gak gue kenal gue senyumin sampai akhirnya ngobrol di lift sama dosen.
Di lorong kelas gue masih senyum-senyum rasanya tuh es krim lebih manis dari biasanya. Di kelas pun gue senyum ramah ke semua.
Entah kenapa ketika suasana hati kita saat sedang dalam mood yang enak semua jadi kena efek-nya. Kayak dikasih senyum, dikasih sapaan dan pujian. Gitu juga sebaliknya ketika mood lagi berantakan semua kena imbasnya. Dijutekin, didiemin, dimarah-marahin. Ini yang gak baik. Seharusnya jika keadaan hati kita lagi gak enak jangan dilimpahin ke orang yang gak tau apa-apa. Ya, kita semua harus belajar seperti itu. Termasuk gue pribadi. :)
Rabu, 09 April 2014
Minggu, 06 April 2014
Luka Masa Lalu
Aku
tak pernah percaya pada cinta lagi. Tidak. Kegagalan demi kegagalan telah aku
alami. Perih yang tak pernah pudar ini masih membekas di hati. Aku selalu gagal
dalam hubungan percintaan, aku selalu sakit karenanya. Satu tahun aku sendiri,
tidak berani untuk berkomitmen lagi. Entah sampai kapan aku seperti ini.
Melihat teman dan sahabat berbahagia dengan pasangannya masing-masing terkadang
timbul rasa iri di hati ini. Kapan aku temui sosok laki-laki seperti itu yang
bisa membahagiakan dan terus bersama hingga pada hari bahagia yaitu pernikahan.
Sore di hari Sabtu ini lagi dan lagi
aku habiskan di cafe tak jauh dari tempat kuliahku. Sebuah cafe yang tidak
terlalu besar dan tidak terlalu gaduh suara pengunjung lain. Interiornya amat
membuat aku jatuh cinta, bernuansa kayu. Aku senang menghabiskan waktu
berjam-jam di cafe itu entah hanya untuk minum kopi sambil membaca novel atau
sambil menulis. Ya, aku sangat gemar membaca dan menulis sebuah cerita pendek.
“Imajinasi-mu terlalu tinggi” kata seseorang yang pernah mengisi hari-hari
indahku dulu. Dia memang terkadang tak bisa menerima dunia imajinasiku ini.
Handphone ku berdering tanda telpon masuk, aku lihat nama yang sedang
berkedip-kedip di layar handphone-ku “Citra” . Citra adalah sahabat baikku
sejak aku SMA. Saat ini aku dan dia tidak satu kampus tapi kami sering
menghabiskan waktu bersama. Meskipun dia memiliki kekasih tapi dia tidak
seperti orang kebanyakan. Ketika memiliki kekasih terkadang teman diabaikan.
Citra tidak seperti itu, dia masih mempunyai waktu untuk bersamaku, sahabatnya
ini.
“Haloo,
Encit.” Begitulah aku memanggil Citra
“Lo
dimana?”
“Tempat
biasa.”
“Oh.”
Citra sungguh sudah hafal tempat dimana aku berada sekarang
“Ada
apa?”
“Inget
gak janji gue minggu lalu? Yang mau kenalin lo ke seseorang.”
“Hmmm..”
“Datar
banget sih jawaban lo. Hey, lo udah terlalu lama sendiri. Gue khawatir sama
lo.”
“Gue
masih normal kok. Gak ada yang perlu dikhawatirkan.” Kataku
“Please,
sekali ini aja. Dia baik kok.”
“Encit,
gue masih belum siap berkomitmen.”
“Gue gak
nyuruh lo buat pacaran. Temenan aja dulu.”
“Tapi
tetep aja ada tujuannya buat jadi calon pacar.”
“Batu
deh.”
“Yaudah
kapan?”
“Malam
ini.”
“Gak
bisa.”
“Gak
bisa? Lo tiap malam minggu Cuma ngabisin waktu depan novel-novel ya mending
ketemu sama Raka.”
“Raka?”
“Iya
namanya R-A-K-A. Raka.”
“Pokoknya
jangan malam ini deh. Lo atur lagi kapan.”
“Oke.
Minggu siang. Gak boleh nolak lagi. Titik.”
“Tapi....”
belum selesai aku berbicara telpon disebrang sana sudah ditutup. Citra selalu
seperti itu setiap kali apa yang diinginkan harus dituruti. Ya, sejauh ini sih
aku menurutinya dengan senang hati tapi tidak untuk yang satu ini. Raka?
Terdengar familiar nama itu.
***
Keesokan harinya di sebuah mall di
Jakarta Selatan.
“Lo
dimana?” Suara Citra terdengar cempreng di ujung telpon.
“Gue di
lantai 2 nih. Lo dimana?”
“Yaudah
lo ke lantai 3 ya.”
“Oke.”
Klik. Telpon dimatikan. Aku berjalan dengan santai menuju lantai 3. Pengunjung
cukup ramai karena ini adalah hari libur.
“Naya!”
Suara Citra terdengar sambil melambaikan tangan
“Hey.”
Aku membalas lambaian tangan Citra
“Lama
banget sih.”
“Sorry.”
“Yuk.”
“Kemana?”
“Masuk
kesana. Raka udah nunggu disana.” Citra menunjuk coffee shop ternama itu.
“Bayu gak
ikut?” Aku bertanya soal kekasih Citra
“Gak. Dia
lagi ada urusan, tapi nanti dia jemput gue kok.” Kata Citra sambil menggiringku
masuk ke coffee shop itu.
“Ka. Ini
Naya.” Kata Citra menghampiri sebuah meja di pojok ruangan. Laki-laki dengan
potongan rambut yang rapi mengenakan polo shirt berwarna hitam, dengan jam
tangan yang melingkar di tangan kirinya, menggunakan celana jeans dan sepatu
kets. Parfumnya sungguh sangat kuat harumnya, Aigner Black Man. Laki-laki itu menoleh lalu berdiri mengulurkan
tangannya kepadaku seraya tersenyum.“Raka.” Dia menyebutkan namanya, aku membalas
uluran tangannya dan mengenalkan diriku “Naya.”
“Duduk
silakan.” Raka mempersilakan aku dan Citra duduk.
“Makasih.”
Kataku pelan
“Nay.
Raka ini satu fakultas sama lo.” Kata Citra membuka pembicaraan
“Masa
sih?”
“Iya. Aku
satu fakultas sama kamu.”
“Kok gue
gatau ya?” Tanyaku pada Citra sedikit berbisik
“Karena
lo gak pernah memperhatikan ke sekitar lo.” Citra menjawab agak keras sehingga
Raka sedikit tertawa kecil.
“Yah,
Bayu udah jemput nih di bawah. Gue harus cabut sekarang. Sorry ya.” Kata Citra
sambil mengecek isi tas-nya apa ada yang tertinggal atau tidak.
“Cit, lo
gak lagi ngerjain gue kan kayak di sinetron-sinetron FTV?” kataku kembali
berbisik ke Citra
“Gak Nay.
Serius. Ini emang Bayu udah jemput.” Citra menjawab dengan berbisik pula
“Have fun
ya kalian berdua. Sorry gak bisa lama.” Kata Citra berlalu pergi setelah
cipika-cipiki dengan ku dan bersalaman dengan Raka. Akhirnya aku dan Raka
ditinggal berdua oleh Citra. Awalnya sedikit canggung karena harus berkenalan
dan mengobrol hanya berdua. Namun Raka termasuk orang yang enak diajak ngobrol.
Kami membicarakan apa saja dari kampus, hoby bahkan sampai keluarga. Entahlah
kenapa aku bisa langsung bisa sedekat ini dengan orang yang baru aku kenal
beberapa jam yang lalu. Mungkin karena Raka memiliki hoby yang sama dengan ku
atau dia memang enak dijadikan teman sharing. Ya, hanya teman. Aku tak ingin
lebih dari itu.
***
“Jadi
Raka gimana Nay?” kembali Citra yang bersemangat tentang aku dan Raka
“Baik,
asyik diajak ngobrolnya. Ya gitu deh.”
“Trus?”
“Apanya
yang terus?”
“Ya,
kelanjutannya.”
“Just
friend. No more.”
“Selalu
gitu deh.” Kata Citra menghela nafas panjang tanda kecewa.
Setelah 2 bulan berkenalan pada
Minggu siang itu aku dan Raka memang dekat. Raka satu fakultas denganku, jadi
kami sering bertemu di kampus. Dia sering mengantarku pulang atau setiap
weekend jika tidak ada kegiatan dia mengajakku pergi. Dia perhatian sekali dari
hal-hal kecil sampai hal-hal yang besar. Dia selalu ada untukku. Aku jadi ingat
Citra pernah berkata padaku “Udah sebaik dan seperhatian itu lo masih anggap
dia teman? Dia sayang sama lo Nay, pegang omongan gue.” . Sekarang kalimat yang
pernah Citra lontarkan itu terus berkeliaran dipikiranku. Aku belum siap untuk
berkomitmen. Aku takut untuk memulai, aku takut luka ini kembali perih kembali
meskipun bukan dengan orang yang sama tapi aku yakin rasanya sama, perih.
“Mau sampai kapan nunggu lo siap? Lo gak akan tau
kalo lo gak coba. Ya kalo lo mau nunggu sampai lo siap, lo berdo’a aja semoga
Raka juga masih ada saat lo siap.”
Lagi dan lagi kata-kata Citra selalu membuat aku berpikir kembali.
“Loh kok
bengong? Jadi pergi gak nih?” Tanya Raka membuyarkan lamunanku
“Jadi kok
Ka. Mau kemana?”
“Ada
tempat makan enak deket sini.”
“Oke.”
Perjalanan malam itu tidak terlalu
lama karena jalanan juga tidak begitu macet. Raka memarkirkan mobilnya. Aku
melihat ke sekelilingku bertanya dalam hati dimana ini. Sebuah tempat makan
yang amat romantis menurut ku. Aku dan Raka keluar dari mobil lalu masuk ke
dalam restaurant itu disambut oleh seorang pelayan dan ternyata Raka telah
booked tempat terlebih dahulu. Niat sekali laki-laki ini. Tak salah dugaanku
dari luar sudah terlihat romantis sekali tempat ini dan ternyata di dalamnya
pun begitu. Untung aku tidak salah kostum malam ini. Raka amat sangat laki-laki
bukan seperti cowok-cowok abege lain. Dia sangat dewasa dan dia tahu bagaimana
memperlakukan seorang wanita. Dia menarikan kursi dan mempersilakan aku duduk.
“Suka gak
tempatnya?” Kata Raka yang telah duduk tepat dihadapanku
“Suka
banget. Bagus dan romantis.” Kataku sedikit tersipu saat mengucapkan kata
terakhir
Lalu aku
dan Raka mulai memesan makanan dan minuman sambil menunggu pesanan datang aku
dan Raka terlibat percakapan ringan.
“Silakan
dinimkati” Seorang pramusaji menghidangkan makanan dan minuman yang kami pesan
“Terima
kasih.” Kataku dengan senyum kepada pramusaji itu
Selagi
menyantap hidangan makan malam itupun aku dan Raka tak habis-habisnya bercerita
sampai makanan di piring aku dan Raka habis.
“Nay.”
Panggil Raka lembut setelah makanan di piring kami habis
“Kenapa?
Kamu mau minta nambah?” Kataku sedikit bercanda
“Kamu
nih.” Dia tersenyum kecil namun tak berapa lama wajahnya kembali serius
“Kenapa?”
Aku bertanya dengan serius
“Nay, aku
suka kamu saat pertama kali aku lihat kamu di kampus. Aku sudah lama
memperhatikan kamu. Aku mencari tahu sedikit banyak tentang kamu. Sampai
akhirnya aku memberanikan diri untuk menemui sahabatmu Citra. Kamu gak usah
heran kenapa aku bisa kenal Citra dan mengapa aku tahu kalau Citra itu sahabat
dekatmu, nanti akan aku jelaskan. Setelah perkenalan aku dan kamu beberapa
waktu lalu aku akui rasa ini semakin bertumbuh. Aku mungkin bukan lak-laki yang
pemberani karena aku meminta dikenalkan bukan mencoba berani sendiri untuk
berkenalan dengan kamu, tapi itu karena aku ingin tahu lebih jauh kamu seperti
apa. Saat ini yang terpenting adalah aku sayang kamu Nay. Aku ingin terus
berada disisimu saat kamu senang ataupun sedih. Would you be mine?”
Aku hanya
terdiam menatap Raka tak percaya. Raka menggenggam tanganku lembut
“Jawab
Nay.” Pernyataan Raka membuyarkan lamunanku
“Raka aku
gak nyangka ternyata kamu selama ini merhatiin aku, maaf aku gak pernah
merhatiin orang disekitarku. Maaf Raka tapi aku gak bisa, aku belum bisa
memulai untuk berkomitmen.” Kataku yang melepaskan genggaman lembut tangan Raka
“Kenapa?
Kisah masa lalu mu?”
“Kamu
tahu?”
“Iya aku
tahu semua Nay. Maaf bahkan sebelum kamu cerita padaku aku sudah tahu.”
“Hatiku pernah
terluka dulu bahkan lukanya masih terasa nyeri bila aku mengingatnya lagi. Aku
belum siap untuk berkomitmen. Aku takut menyakiti diriku lagi ataupun menyakiti
pasanganku. Aku belum bisa membuka hatiku. Aku tahu kamu sangat baik, aku masih
normal, aku masih bisa menilai bahwa kamu adalah laki-laki yang baik tapi untuk
saat ini maaf sekali lagi aku belum bisa.” Aku tertunduk air mataku mengembang
siap jatuh. Aku memang bodoh menolak laki-laki sebaik Raka, secerdas Raka,
setampan Raka hanya karena luka masa lalu yang masih terasa begitu menyakitkan.
“Nay, aku
gak maksa kalau memang kamu belum siap sekarang tidak apa-apa. Aku akan
menunggu sampai kamu siap berkomitmen denganku. Asal kamu izinkan aku untuk
terus berada disisi mu kapanpun itu, biar aku tunjukkan kepadamu bahwa tak
semua laki-laki sama seperti masa lalu mu Nay. Aku sayang sama kamu tulus dan
aku gak mau menyakiti hati orang yang aku sayang.” Raka beranjak dari kursinya
dan menghampiriku dan memeluk tubuhku. Orang-orang melihat kejadian malam itu dan
menatap dengan heran. Namun kami tak menghiraukan. Raka berbisik sekali lagi “aku sayang kamu Naya Ramadina.” . Aku
beranikan diri untu mengucap walau dengan sedikit terisak
“Aku
ingin belajar menyayangimu, bantu aku.”
“Pasti.”
Raka semakin mempererat pelukannya.
***
“Setiap orang pasti memiliki luka masa lalu. Luka
itu tidak pernah benar-benar mengering karena setiap kita mengingatnya luka itu
akan terasa perih lagi.”
“Jangan sia-siakan orang yang dengan tulus mencintai
kita hanya karena kita memiliki luka masa lalu yang amat perih. Siapa tahu
orang yang mencintai kita itu datang untuk menyembuhkan luka.”
Jumat, 28 Maret 2014
Cinta Bisa Kadaluarsa
Ini yang gue gak suka dari hubungan
pacaran atau relationship yaitu PERTENGKARAN.
Entah kenapa gue tidak suka
bertengkar, gue tidak suka berdebat hingga urat naik dan akhir dari bertengkar
adalah menangis. Gue benci, gue gak suka itu. Gue sudah terlalu banyak melihat
orang bertengkar. Dari nyokap gue bertengkar dengan bokap, teman gue sendiri
bertengkar dengan pacarnya atau bahkan gue melihat orang yang gak gue kenal
bertengkar dengan pacarnya di jalan. Kebanyakan orang mengatakan bahwa
pertengkaran wajar adanya dalam setiap hubungan. Mungkin gue bisa mengamini
pernyataan tadi tapi tetap saja gue tidak suka betengkar.
Gue paling tidak bisa dibentak
sedikitpun. Gue sensitif? Iya, gue terlalu perasa untuk hal-hal itu. Gue ingin
pasangan gue bisa mengerti gue, gue egois memang tapi setidaknya dia bisa tau
cara memberitahu yang baik sesuai keinginan gue tanpa harus membuat air mata
gue keluar.
Gue tidak menganggap diri gue benar,
menganggap diri gue tidak melakukan kesalahan apapun. Gue manusia biasa, gue
bukan dewa, gue kerap kali membuat kesalahan yang kecil atau yang besar.
Mungkin adanya pertengkaran karena kedua belah pihak melihat masalah tersebut
dari sisi yang berbeda jadilah kesalahpahaman yang tidak berujung. Menurut gue
benar tapi menurut dia salah, begitu juga sebaliknya.
Bulan pertama pacaran semua manis
tapi masuk bulan selanjutnya manisnya ilang jadi asem.
Mungkin benar yang dikatakan Raditya
Dika bahwa cinta bisa kadaluarsa. Awalnya kita menganggap dia beda dari yang
lain. Dia bisa membuat hari-hari gue manis penuh cinta tapi setelah dijalani
akhirnya bertengkar juga dan PUTUS. Itulah yang dimaksud dengan cinta bisa
kadaluarsa. Entah dapat ilham darimana Raditya Dika bisa mengemukakan teori
seperti itu dan menurut gue bener sih. Gue capek kayak gini terus. Apa gue yang
salah cara mencintainya atau gue belum siap berkomitemn? Mungkin gue belum
cukup dewasa dan gue egois. IYA.
Terima kasih.
Senin, 10 Maret 2014
entah seberapa rumit kenangan bisa kau buat sebelum
aku lupa bagaimana caranya mengingat.
aku tak bisa lagi melafalkan luka semenjak kau hapus seluruh langkah di dadaku yang telah sedemikian dalam terpahat.
tak ada yang begitu rahasia dan membingungkan dari tiap rasa kecewa sebab kita sudah bersepakat akan membunuh harapan masing-masing. dari yang terkecil. dari yang paling samar.
entah seberapa sederhana perpisahan bisa aku jelaskan setelah kau ingat bagaimana caranya melupakan.
kau begitu fasih mengeja setiap kesalahan semenjak kita bertemu untuk mempelajari apa saja yang pernah kutulis di hatimu.
selalu ada yang tersembunyi dan terlewat dari tiap perbincangan sebab kita tak pernah berjanji untuk memahami masa lalu dan sejarah pilu masing-masing. dari yang pernah terucap. dari yang masih tersimpan.
aku tak bisa lagi melafalkan luka semenjak kau hapus seluruh langkah di dadaku yang telah sedemikian dalam terpahat.
tak ada yang begitu rahasia dan membingungkan dari tiap rasa kecewa sebab kita sudah bersepakat akan membunuh harapan masing-masing. dari yang terkecil. dari yang paling samar.
entah seberapa sederhana perpisahan bisa aku jelaskan setelah kau ingat bagaimana caranya melupakan.
kau begitu fasih mengeja setiap kesalahan semenjak kita bertemu untuk mempelajari apa saja yang pernah kutulis di hatimu.
selalu ada yang tersembunyi dan terlewat dari tiap perbincangan sebab kita tak pernah berjanji untuk memahami masa lalu dan sejarah pilu masing-masing. dari yang pernah terucap. dari yang masih tersimpan.
mari bertaruh luka di meja ini dan lihat siapa yang
menang.
sebab bayangan masa depan terlalu buram sementara masa lalu di matamu begitu terang.
tak ada peluk yang cukup hangat untuk meredakan amarahku dan tak ada cium yang begitu erat untuk mengikatmu.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah genggam.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah cinta.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah rindu.
sementara sudah terlampau luka untuk menyebut kita.
sebab bayangan masa depan terlalu buram sementara masa lalu di matamu begitu terang.
tak ada peluk yang cukup hangat untuk meredakan amarahku dan tak ada cium yang begitu erat untuk mengikatmu.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah genggam.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah cinta.
sementara masih terlampau jauh untuk sebuah rindu.
sementara sudah terlampau luka untuk menyebut kita.
Kamis, 06 Maret 2014
di tempat biasa kita bertemu, ada yang tertinggal dari setiap sesap minuman hangat, seperti ampas kopi yang pahit dan pekat, seperti bayangan luka yang begitu dekat
di tempat biasa kita bertemu, samar suaramu masih terdengar, seperti ingatan yang perlahan pudar, seperti kenangan yang menyembunyikan memar
di tempat biasa kita bertemu, ada yang tersisa dari setiap sayup suara, ada yang terlupa untuk dibawa, ada yang luput dari perhatian kita
di tempat biasa kita bertemu, ada yang belum terangkum dalam kalimatku, samar suaraku tak sampai lagi kepadamu
di tempat biasa kita bertemu, samar suaramu masih terdengar, seperti ingatan yang perlahan pudar, seperti kenangan yang menyembunyikan memar
di tempat biasa kita bertemu, ada yang tersisa dari setiap sayup suara, ada yang terlupa untuk dibawa, ada yang luput dari perhatian kita
di tempat biasa kita bertemu, ada yang belum terangkum dalam kalimatku, samar suaraku tak sampai lagi kepadamu
ada kerut kenangan terukir di dasar cangkir
mengundang bibirmu yang memang bersikeras mencium ampas, sementara masa
lalu tak patut lagi kita gali dan percakapan perlahan menjadi mahal.
di depanmu aku menyusun kemungkinan tapi kau membuang semua kepastian.
tak ada jarak terjauh antara dua luka kecuali perasaan tak ingin mempertahankan.
dalam hening ruang dengan dua cangkir minuman di depan kita sunyi telah mengubah diri menjadi lebam di masing-masing dada.
di depanku kau menyusun kebohongan dan aku terlalu lihai untuk tak percaya.
ada aroma kenangan di permukaan cangkir yang belum kau minum tapi wajahmu telah menolak mengingat apapun.
sebab yang sudah tak perlu kembali.
sebab yang luka tak perlu lagi.
sebab dirimu tak ingin pergi.
di depanmu aku menyusun kemungkinan tapi kau membuang semua kepastian.
tak ada jarak terjauh antara dua luka kecuali perasaan tak ingin mempertahankan.
dalam hening ruang dengan dua cangkir minuman di depan kita sunyi telah mengubah diri menjadi lebam di masing-masing dada.
di depanku kau menyusun kebohongan dan aku terlalu lihai untuk tak percaya.
ada aroma kenangan di permukaan cangkir yang belum kau minum tapi wajahmu telah menolak mengingat apapun.
sebab yang sudah tak perlu kembali.
sebab yang luka tak perlu lagi.
sebab dirimu tak ingin pergi.
di permukaan mataku kau menuliskan luka, lalu memaksa bibirku yang
sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata.
kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.
sementara airmata sibuk mencari jalan pulang, takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat.
aku tak mampu menulis di tanganmu sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian. kita begitu hapal cara saling menemukan tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.
di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain.
jauh dari yang tak akan kembali. jauh dari yang tak pernah terjadi.
kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.
sementara airmata sibuk mencari jalan pulang, takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat.
aku tak mampu menulis di tanganmu sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian. kita begitu hapal cara saling menemukan tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.
di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain.
jauh dari yang tak akan kembali. jauh dari yang tak pernah terjadi.
tak ada yang berubah meski kenangan sudah berhasil
kau kemas dan luka tak lagi membuatmu cemas. Sebab kepergian selalu
terasa nyata dan kesepian selalu mencari teman.
Di depan cermin ada sejarah yang mengulang-ulang dirinya, memanggilmu dari kejauhan.
aku bersembunyi di sudut lain membiarkanmu menatap wajah yang selama ini bertarung dengan ragu: benarkah sejauh ini pernah ada kita di situ?
tak ada yang terganti meski ingatan tergulung rapi dan kau sudah menyediakan ruang yang lain lagi.
sebab raung yang kau peram selalu memantulkan diri setiap kali kau mulai meraba pipi: di depan cermin kau membayangkan tanganku mengusap lagi wajahmu, menyentuh kembali kenangan itu.
ada yang mengalir di pipimu tapi bukan airmata. seperti ingatan yang mencair dan mencari rumah. rindu yang pergi dan pulang ingin sekali rebah.
tak ada rumah yang kau ingat di balik cermin itu. sebab tak pernah ada kau dan aku.
Di depan cermin ada sejarah yang mengulang-ulang dirinya, memanggilmu dari kejauhan.
aku bersembunyi di sudut lain membiarkanmu menatap wajah yang selama ini bertarung dengan ragu: benarkah sejauh ini pernah ada kita di situ?
tak ada yang terganti meski ingatan tergulung rapi dan kau sudah menyediakan ruang yang lain lagi.
sebab raung yang kau peram selalu memantulkan diri setiap kali kau mulai meraba pipi: di depan cermin kau membayangkan tanganku mengusap lagi wajahmu, menyentuh kembali kenangan itu.
ada yang mengalir di pipimu tapi bukan airmata. seperti ingatan yang mencair dan mencari rumah. rindu yang pergi dan pulang ingin sekali rebah.
tak ada rumah yang kau ingat di balik cermin itu. sebab tak pernah ada kau dan aku.
Langganan:
Postingan (Atom)