Aku
punya teman dekat laki-laki (lagi) . Ya, hanya sebatas teman saja tak lebih.
Dia laki-laki yang sangat berbeda, bukan dari agama tapi maksudku ia berbeda
dari laki-laki lain, ia tak seperti laki-laki lain yang pernah aku kenal
sebelumnya. Dia sangat menghormatiku, dia sangat memperhatikanku, dia sangat
melindungiku, aku mulai merasa nyaman di dekatnya. Aku dan dia memang berbeda
agama, Tuhan hanya satu tapi hanya saja aku dan dia percaya kepada kepercayaan
yang berbeda.
Ia
menggenggam rosario merapalkan do’a dihadapan Tuhannya, aku melihatnya dari
pintu salah satu gereja di Jakarta. Menunggu dia berdo’a hingga selesai, sejak
aku mengenalnya itu bukan salah satu hal yang tabu lagi. Terkadang dia juga
menemaniku beribadah di masjid, melihatku sujud dihadapan Tuhanku. Sebuah
toleransi agama yang indah. Aku menggenggam tasbih dan dia menggenggam rosario.
Siang
itu aku menemaninya berdo’a di gereja seperti biasa, tak terasa kumandang adzan
dzuhur memanggilku yang sedang duduk sambil membaca novel terbaru di halaman
gereja. Suara adzan memang terdengar samar namun aku masih bisa mendengar, aku
lirik sekitarku dan melihat jam tangan “sudah waktunya sholat.” Ucapku. Tapi
dia nampaknya belum selesai berdo’a, aku menutup novelku dan beranjak dari
kursi di taman itu. Aku berjalan keluar taman gereja itu menuju masjid yang
letaknya tak jauh dari gereja tempat dimana dia berdo’a tanpa memberi dia
kabar, sungguh aku tak mau mengganggu ibadahnya.
Aku
tunaikan ibadah sholat dzuhur ku di masjid
indah itu, ornamen yang sangat indah, catnya putih bersih dan banyak
kaligrafi yang sungguh membuat aku selalu berucap “subhanallah. Maha Suci
Allah.” . 4 rakaat telah aku kerjakan, lalu aku menengadahkan kedua tanganku
lalu berdoa. Terasa seperti ada yang memperhatikan gerak-gerikku, aku menoleh
ke belakang. Dia, laki-laki itu sedang duduk di halaman depan masjid
memperhatikan ke arahku seraya tersenyum. Aku rapikan jilbabku, lalu keluar
menghampirinya.
“Kamu
udah selesai?” tanya ku
“Udah
dong, kalo belum aku gak disini. Berdo’a apa kamu? Serius banget kayaknya.”
“hehehe.
Ada deh.”
“Do’ain
aku gak?”
“Aku
berdo’a yang baik-baik.”
“sama
dong! Aku juga tadi berdoa yang baik-baik.”
“kamu
ikutin aja. Yuk, ah.” Kataku sambil berjalan keluar dari halaman masjid.
“Kok
kamu tau aku di masjid?”
“Iya,
tadi aku nanya satpam yang di depan gereja katanya kamu tadi sempat nanya dia
ya letak masjid dimana. Kamu udah makan?”
“belum.”
“Kita
makan siang dulu yuk.”
***
“Rambutmu
kelihatan tuh.” Sambil menunjuk beberapa helai rambut poni yang keluar dari
jilbabku
“Ah,
iya. Makasih.” Kataku sambil membetulkannya dengan jari tanganku.
“Ini
rumahnya kan?” tanyanya dia padaku, yang siang itu kami berdua membuat janji
dengan teman-teman lain untuk berkumpul menonton dvd bersama.
“Iya
bener ini kok alamatnya.”
“Tapi
kok sepi ya?”
“Ya
mungkin anak-anak yang lain belum datang, maklum Indonesia.”
“Telat??
Kenapa hal buruk seperti telat dibudayakan sih.”
“hahaha.
Yaudah kita coba tekan bel-nya aja.”
“oke.”
Aku memencet bel 2 kali dan akhirnya
dibukakan.
“Cari
siapa ya?” tanya pekerja rumah tangga di rumah itu
“Kita
cari Lala mba. Ada?” Dia menjawab
“Oh
temennya mba Lala. Sudah ditunggu, silahkan masuk.”
“Terima
kasih mba.”
“Motornya
dimasukin garasi saja mas-nya disini.”
“Iya
Mba.” Dia menjawab lagi.
Aku menunggu dia sampai selesai
parkir motornya di garasi. Sebelum akhirnya masuk bersama ke rumah Lala.
“Langsung
ke atas saja mas dan mbak-nya.” Ucap pekerja rumah tangga itu
“Iya
mba.” Jawabnya
Aku dan dia menaiki anak tangga
“La,
ini gue Tian udah sampe nih.” Katanya sambil setengah berteriak
“Hussh,
kamu di rumah orang teriak-teriak.” Kataku
“Abis,
tamu dateng gak disambut.” Gerutunya
“Hei,
kalian berdua sampe juga di rumah gue.” Sapa Lala dengan mengejutkan. Panjang
umur sekali, abis diomongin muncul tiba-tiba.
“Hai
La..” Sapaku sambil cipika-cipiki
“Halo,
Lala..” Dia menyapa sambil melambaikan tangan
“Susah
gak cari rumah gue?” tanya Lala
“Ah,
daerah sini gue paham kok La.” Dia menjawab
“Anak-anak
belum dateng?” Tanyaku
“Bentar
lagi kok. Lagi pada di mini market depan komplek.”
“Ngapain?
Emang gak ada snack disini?” Tanyanya cuek, aku sedikit menyenggol lengannya
“Hahahaha.
Ada kok Tian snack. Cuma gak ada soft drinknya, gue lupa beli. Makanya gue
titip anak-anak.” Tawa Lala pecah.
Aku dan Dia duduk di sofa tepat
didepan tv beserta home theather di lantai 2 rumah Lala. Tak lama teman lain
sampai dan sebelum acara “marathon film” dimulai diawali dengan acara basa-basi
alias menanyakan pertanyaan-pertanyaan dasar. “udah lama sampe?” dan
sebagainya.
“Jangan
ditempatin ya.” Kataku sebelum meninggalkan tempat duduk
“Iya
nyonya Christian.” Celetuk salah seorang teman. Suara ramai ledekan pun pecah.
“Udah,
udah. Kita mau nonton apa nih?” Tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan
“Film
romance aja ya.” Pinta salah satu teman perempuan. Setelah meminta film romance
terdengar beberapa suara beda pendapat. Antara romance, komedi dan horor.
Sebuah hal yang biasa setiap kali ingin menonton film bersama. Setiap orang
punya selera masing-masing, dan kita gak bisa memaksakan selera orang lain
untuk selalu sama dengan selera kita. Saat itu aku tak ikut berdebat, aku hanya
mendengarkan karena aku membantu Lala menyiapkan minuman di meja yang tak jauh
dari tempat dimana kita semua akan menonton. Bagiku film apa saja tak masalah
dan akhirnya suara perdebatan itu mulai hilang. Ya, akhirnya memutuskan untuk
mengawali film pertama dengan film drama romance. Bukankah kita harus
menghormati pendapat atau selera orang lain? sebuah toleransi yang luar biasa.
Suara film telah dimulai sudah
terdengar, aku dan Lala membawa beberapa toples snack ringan menunju sofa empuk
dan mulai bergabung.
“Aku
udah nonton film ini belum sih?” Tanya Tian padaku
“500
days of summer??” Iya film yang diputar sekarang 500 days of summer. Film
keluaran beberapa tahun silam
“Belum.”
Jawabku kemudian
“Yakin??”
Tanyanya lagi
“Iya,
belum.” Jawabku memastikan
“Ian,
kok lo nanya udah nonton film ini apa belum sih?” Tanya Hadi, salah seorang
teman
“Iya
soalnya setiap film gue tonton selalu bareng sama dia.” Kata Tian sambil
melirik dan menyenggol lenganku.
“wuuuuuuu..”
Teriakan-teriakan seperti anak SMA muncul lagi.
“Udah,
silent please. Filmnya udah mulai.” Kataku sambil meletakan jari telunjuk di
ujung bibir.
***
3 judul film sudah kami tonton
semua. Teman laki-laki semuanya tertidur di sofa, bekas makanan berantakan
dimana-mana. Aku beranjak dari sofa, namun Tian tertidur di bahu ku, aku angkat
kepalanya dengan hati-hati mengambil bantal, mencoba mengganti bahuku dengan
sebuah bantal. Aku mulai membereskan bekas makanan yang berantakan dan
gelas-gelas yang sudah kosong isinya.
“Udah
biar si mbak aja yang beresin.” Ucap Lala
“Gak
usah La, biar kita-kita aja. Kasihan pembantu lu udah dapet kerjaan banyak.”
Jawab teman perempuanku yang lain. Aku setuju namun hanya menganggukan kepala.
Pekerjaan akan terasa ringan apabila
dikerjakan bersama-sama. Pepatah kuno itu memang benar adanya.
“Lu
udah jadian ya sama Tian?” Tanya teman perempuanku saat kami sedang asyik
mencuci gelas dan pirin kosong di dapur rumah Lala
“......”
Aku tak menjawab hanya tersenyum
“Cieeee,
dia beneran udah nembak lu?”
“Nembak??”
“Iya
nembak, ‘mau jadi pacar gue?’ kayak gitu.”
“Gak.”
“Loh??”
“Hmm, gini ya. Menurut gue pacaran orang
dewasa itu gak pake tembak menembak segala. Kayak anak SMP deh lo.”
“Loh,
gimana caranya kita bisa tau kalo dia beneran suka, eh maksud gue sayang sama
kita?”
“Lo
kan udah dewasa, lo tau pasti cara bedain orang yang perhatian sama kita. Tuhan
juga udah kasih kita hati supaya kita juga bisa merasakan hal seperti cinta.”
“Maksudnya?”
“Misalnya
dia tiap hari anter jemput lo, nganter kesana kemari, telponin lo tiap waktu
karena khawatir, sms-sms romantis, jalan bareng, berbagi cerita, dsb.”
“Dan
lo ngerespon itu?”
“Iya
gue respon. Karena ya gue sayang juga sama dia.”
“Dia
bilang sayang sama lo?”
“He
said everything. Love, miss, and a thousand sweet words.”
“Kalo
Cuma kata-kata sih gampang. Lo gak takut di PHP-in?”
“Gak
sama sekali. Karena gue sayang makanya gue yakin. Lagipula kata-kata yang dia
ucapkan sesuai kok sama perilaku yang dia buat ke gue.”
“Tapi
kan dia gak nembak lu.”
“Kenapa
harus nunggu ada yang nembak dulu sih? Kalo sama-sama cocok ya jalanin aja.
Ngalir aja.”’
“Berarti
itu HTS.”
“HTS
itu suka dipake sama oknum playboy, jadi kalo lagi ke gap jalan sama cewek lain
bilangnya ‘gak ada hubungan apa-apa.”
“Oh,
TTM?”
“Bukan.
TTM itu semacan ada komitmen diawal kalo kita tetap teman tapi masih bisa
pacaran sama orang lain. Gak jauh dari HTS-lah.”
“Kalo
nanti lo digantungin gimana?”
“Kalau
sudah saling menyadari sama-sama sayang, gue rasa gak ada istilah
gantung-menggantung. Ini kan soal hati bukan jemuran.”
“Hahaha.
Bisa aja lo. Kalo tiba-tiba Tian ninggalin lo gimana?”
“Semua
pasti ada resikonya. Orang pacaran juga pasti ada potensi buat putus kan? Dan
cara putusnya macem-macem. Ada yang ditinggalin gitu aja, ada yang baik-baik,
ada yang ngilang. Ya intinya kalo gak mau patah hati ya gak usah jatuh cinta.”
“Gilaaaaa.
Kata-kata lo kebanyakan baca novel. Tapi gue setuju sih. Trus kalian kan gak
pake ritual nembak. Gimana cara ngitung anniversary-nya? Udah berapa tahun,
bulan, minggu, hari, jam, menit, detik?
“Hahahahaha...
Lo mau pacaran atau mau jualan kalender. Masih pacaran mah gak usah itung
kuantitas waktu yang penting tuh kualitas hubungan. Kalo mau itung anniv sih
nanti aja pas lo udah nikah, jelas kan tanggalnya?”
“Hahahaha...
bener juga kata-kata lo. Duh, lo lucu banget deh. Jadi kalian jalanin dulu
nih?”
“Iya,
jalanin dulu. Sejauh ini sih cocok-cocok aja. Ya, seperti yang gue bilang tadi
semua pasti ada resikonya.”
“Goodluck
ya. Gue do’ain yang terbaik untuk lo berdua.”
“Amin.”
Sungguh yang aku takutkan bukan Tian
tidak mengungkapkan perasaannya, sungguh aku sangat yakin Tian menyayangiku
dengan tulusnya. Namun yang aku ragukan adalah tentang perbedaan agama aku dan
dia. Itu saja.
-bersambung.....
@eishafitri



