Catatan Domba Betina

Sabtu, 14 Februari 2015

Cerita Perjalanan : Kekayaan Budaya Indonesia

Setelah dari SD Muhammadiyah Gantong perjalanan aku lanjutkan kembali. Saat itu maghrib telah tiba lalu aku melaksanakan kewajiban ibadahku di rumah adat Belitong yang berada di pusat kota Tanjungpandan.

Rumah adat Belitong sering disebut dengan rumah panggong. Rumah adatnya besar sekali dan terbuat dari kayu. Pengetahuan baru yang aku terima dari Bang Rian sang pemandu wisata itu adalah bahwa rumah adat belitong atau rumah panggong ini tidak memiliki kamar-kamar. Karena pada zaman dahulu biasanya masyarakat belitong tidur bersama satu keluarga tanpa ada kamar. Alasannya karena takut dengan hewan buas yang sewaktu-waktu masuk ke rumah. Uniknya semua dibuat dengan angka ganjil, semisal tangga depan berjumlah ganjil, jendela dan juga tiang penyanggah. Di teras depan disediakan kursi tamu, biasanya para tamu kalau datang duduk di teras depan saja. Masuk ke dalam ada ruangan luas tanpa sekat dan ruangan belakang tanpa sekat juga. Jika ada perayaan seperti pernikahan biasanya ruangan depan diisi oleh para laki-laki dan para wanita di ruangan belakang dekat dengan dapur. 

Di rumah panggong yang kali ini aku masuki terdapat replika berupa baju adat perkawinan belitong lengkap dengan kamar pengantin, makanan-makanan khas belitong, tempat mas kawin, alat-alat musik tradisional dan beberapa foto sejarah. Nah, menurut Bang Rian jika seorang anak belitong menikah ia harus punya rumah dulu karena rumah adat belitong kan tidak ada kamar. Tapi kalau zaman sekarang melihat rumah-rumah masyarakat belitong sudah jarang sekali ada yang menggunakan rumah panggong. Tapi uniknya rumah masyarakat belitong sekarang ini setelah aku perhatikan adalah sebagian besar semua beratapkan seng. Rumah sebesar apapun pasti atapnya seng. Setelah aku tanyakan kepada Bang Rian mengapa tidak menggunakan genteng, beliau menjawab bahwa dahulu pada saat zaman penjajahan belanda rumah harus beratapkan seng supaya masyarakat tidak tidur siang dan harus bekerja. Karena efek panas yang timbul dari seng saat siang hari. Setelah aku perhatikan lagi rumah masyarakat belitong ini tidak melebar ke samping melainkan memanjang ke belakang.

Setelah acara doorprize dan game saatnya menyantap makan malam. Seluruh peserta travel diatur untuk duduk memanjang lalu kemudian dibagi menjadi satu kelompok yang terdiri dari empat orang. Aku bingung kok mau makan malam saja repot begini. Ternyata malam itu akan makan dengan adat khas belitong yaitu makan bedulang. Makan bedulang adalah cara makan khas belitung yang disajikan di atas nampan. Nampan yang berisi lauk pauk ditutup oleh tudung saji yang berwarna merah. Tempat nasi yang bawahnya ada empat piring kosong yang ditumpuk, empat gelas air teh hangat, 4 kue bingke. Cara makannya unik sekali di antara 4 orang dalam kelompok itu yang usianya paling muda harus mengambil piring paling bawah, lalu piring tersebut dibersihkan dengan serbet lalu diberikan kepada orang yang paling tua, begitu seterusnya sampai orang tua ketiga. Yang paling tua usianya boleh mengambil nasi dan lauk pauk lebih dulu. Aku yang memang paling muda kebagian jatah terakhir. Makannya tak menggunakan sendok dan hanya ada satu mangkuk air cuci tangan (kobokan) lagi-lagi yang paling tua yang boleh cuci tangan lebih dulu dan mengelap diserbet lebih dulu. Aku kebagian yang terakhir. Sayangnya aku lupa apa saja nama lauk yang disajikan. Makan sambil diiringi oleh musik melayu khas belitong dengan gesekan biola dan keyboard. Suasana makan malam saat itu penuh keakraban. Bahagia sekali.

Tak terasa sudah pukul 21.30, setelah kenyang menyantap makan malam seluruh peserta travel diberikan kartu atau kunci kamar hotel. Dan tujuan selanjutnya adalah Bahamas Hotel and Resort. Good night :)

replika yang ada di rumah panggong


ini cuma replika. Jangan dimakan :p

mari makan bedulang :)


blur


with mama

my room 225 :)

Bahamas Hotel and Resort

depan kamar banget nih. Haha



Kamis, 05 Februari 2015

Cerita Perjalanan : Museum Kata Andrea Hirata dan SD Muhammadiyah Gantong

Hari sudah sore dan langit mendung masih menyelimuti kota Belitong. Aku mulai memasuki Jl. Laskar Pelangi dengan atmosfir yang berbeda penuh warna seperti pelangi. Tak jauh dari tulisan nama Jl. Laskar Pelangi mini bus berhenti di depan museum kata Andrea Hirata.

Museum Kata ini sangat sederhana jika dilihat dari luar, bangunannya sama seperti rumah penduduk di kiri kanan. Tapi setelah masuk ke dalam isinya sungguh luar biasa. Di depan terdapat papan tulisan "Museum Kata Andre Hirata Indonesia's First Literary Museum" . Jadi museum ini adalah museum sastra pertama di Indonesia. Aku yang memang gemar sekali membaca seperti masuk ke sebuah taman surga. Dari ruang depan sudah banyak cerita dan sejarah yang ditempel di dinding. Banyak sekali karya sastra karangan Andrea Hirata di sana, lukisan-lukisan, piala penghargaan, poster-poster laskar pelangi, benda-benda antik. Aku sulit mendeskripsikannya tapi akan aku coba menuliskannya. Cara menikmati museum ini adalah dengan cara membaca. Banyak quote-quote yang dipajang dalam bingkai. Warna-warni dinding, sepeda ontel dan ada dapur yang menyediakan kopi.

Aku jatuh cinta pada museum ini. Andai saja di Jakarta ada mungkin aku lebih sering mengunjunginya. Jujur saja aku kurang puas berada di sana, karena waktu yang terbatas aku harus melanjutkan perjalanan menuju SD Muhammadiyah Gantong. Tak rela aku meninggalkan museum kata tapi apa daya aku harus melanjutkan ke SD Muhammadiyah Gantong.

Setelah ashar aku menuju SD Muhammadiyah Gantong, singkat cerita SD Muhammadiyah Gantong adalah SD yang muncul dalam film Laskar Pelangi di mana 10 anak menuntut ilmu di SD yang amat sangat sederhana itu. SD Muhammadiyah Gantong yang asli sudah tidak ada (menurut Bang Rian sang Pemandu Wisata) karena kondisi tanah yang buruk jadi SD tersebut sudah tidak ada, karena di SD yang asli tidak cukup luas untuk tempat wisata. Yang saat ini aku kunjungi adalah replika SD Muhammadiyah Gantong yang juga dijadikan tempat syuting Laskar Pelangi the series. Setelah sampai sana SD Muhammadiyah Gantong menurutku sama seperti aslinya di film Laskar Pelangi. SD nya sudah bolong-bolong atapnya, dindingnya sudah rapu, kursi dan mejanya pun begitu. Aku jadi ingat perjuangan anak-anak laskar pelangi, mereka tetap semangat mencari ilmu, semangat untuk meraih sukses walau keadaan sekolah mereka bisa dibilang tak layak. Seharusnya aku yang tinggal di kota dengan fasilitas sekolah yang baik bisa lebih semangat dari mereka. Lintang seorang anak pesisir pantai yang mengayuh sepedanya berpuluh kilo untuk sekolah dan aku yang hanya tinggal naik kendaraan pribadi atau angkutan masih malas? Sebuah pelajaran hidup aku dapatkan dari perjalanan ini.



Museum Kata Andrea Hirata tampak depan

welcome :)

kalian sangat menginspirasi!

maaf lupa di rotate :p ini ruangan depan museum

membaca bersama Andrea Hirata


ini buat sign untuk teman-teman supaya tetap semangat nyusun skripsi








Andrea Hirata penulis terbaik!!

suka banget sama background ini :)


setuju!!

percayalah jika satu pintu tertutup. Jutaan pintu lainnya terbuka :)

i love this corner!!


teruslah bermimpi kelak Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu itu -AH-


pintu gerbang SD Muhammadiyah Gantong








ibu guru Mus "Mustika" hehehe



peace :)
Gerimis kembali turun dan aku bersiap kembali untuk perjalanan selanjutnya :)