Catatan Domba Betina

Jumat, 06 Oktober 2017

Catatan Perjalanan : Kembali ke Jogya

Sebetulnya ini bukan kali pertama gue ke Jogya, sepuluh tahun lalu gue pernah ke sini acara study tour sekolah, tepatnya tahun 2007. Dan setelah sepuluh tahun gue memutuskan untuk berlibur lagi ke Jogya, yang sudah pasti Jogya berubah dari sepuluh tahun itu, kalau pas zaman sekolah gue tinggal duduk manis di bus, kali ini gue harus menjelajah Jogya sendiri.
Perjalanan kali ini gue bersama satu orang teman kuliah, dia ini salah satu teman seperjuangan di kampus dulu. Suka duka tugas kuliah, pusingnya nyusun skripsi dan wisuda kita barengan bahkan duduk deketan. Makanya setelah lulus kuliah ini kita berdua udah saling sibuk sama kerjaan masing-masing dan untuk terus mempererat persahabatan kita memutuskan untuk liburan bareng. Dan yang terlintas di otak kita saat itu adalah Jogya. Selain gue yang rindu dengan suasana Jogya, teman gue ini belum pernah ke Jogya. Btw, teman gue ini namanya Lutfiah.
Kebayang kan liburan ke Jogya berdua doang dengan pengetahuan seadanya. Kalau ini dibilang nekat kayaknya gak, kita udah prepare dua bulan sebelum berangkat. Bahkan sampai ada technical meeting di taman Bintaro Xchange.
Pada saat technical meeting waktu itu kita berdua matengin banget dari pesan tiket kereta PP, penginapan sampai tujuan mana saja yang kita tuju dan transportasinya. Untuk tiket kereta kita pesan di PegiPegi, kita pesan tiket pergi untuk tanggal 29 September 2017 KA. Bengawan tujuan Stasiun Pasar Senen - Lempuyangan harganya Rp.74.000/orang. Untuk tiket pulang untuk tanggal 1 Oktober 2017 KA. Gaya Baru Malam Selatan tujuan Lempuyangan - Pasar Senen harganya Rp. 104.000/orang.

Jumat, 29 September 2017
Pagi ini nampak cukup cerah, cukup dag dig dug sih karena beberapa hari ini hujan kerap datang. Pagi ini pukul 07.00 gue sudah siap menuju Stasiun Jurangmangu. Hari ini hari Jum'at dan sepagi ini pasti KRL penuh sesak dengan karyawan berangkat kerja. Pukul 07.30 gue sudah sampai di Stasiun Jurangmangu menunggu di peron 1 tujuan tanah abang. Gue whatsapp Lutfiah menanyakan keberadaan dia, karena kita janji bertemu di Stasiun Tanah Abang. Gue melewati dua kereta begitu saja karena sudah penuh dengan para pekerja itu, sedangkan gue bawa tas yang cukup besar dan tas kamera. Hampir jam 8 pagi tapi stasiun belum menunjukan tanda-tanda akan sepi, kalau gak naik-naik nanti bisa telat sampai Stasiun Senen. Akhirnya gue putuskan untuk naik kereta selanjutnya. Agak padat tapi ya lumayan masih bisa kirim chat ke Lutfiah, ternyata Lutfiah berada di kereta yang sama. Berarti tiba di Stasiun Tanah Abang barengan. Akhirnya gue dan Lutfiah ketemu di Stasiun Tanah Abang, kita langsung pindah peron ke peron 2 nunggu kereta Jatinegara. Dari Stasiun Tanah Abang naik jurusan Stasiun Jatinegara terus turun di Gang Sentiong, dari Gang Sentiong pindah peron naik yang jurusan Bogor tapi turun di Stasiun Senen. Kenapa gak langsung ke Stasiun Senen? Karena kereta Jatinegara gak berhenti di Stasiun Senen jadi kita mesti muter dulu. Sesampainya di Stasiun Senen kita langsung ke Counter cetak tiket, karena boardingnya masih lama kita memutuskan untuk beli cemilan dan makanan untuk di kereta nanti. Hmmm, Minimarket di sini cukup mahal ya. Hahaha. Pintu tiket sudah terbuka, walau masih satu jam lagi kita akhirnya nunggu di ruang tunggu di peron. Pukul 11.20 kereta mulai bergerak menuju Lempuyangan. Di depan kursi gue sama Fiah juga ada dua orang perempuan yang hendak liburan ke Jogya juga. Akhirnya sedikit banyak ngobrol bareng mereka. Karena ini kereta ekonomi, taulah pasti yaa kursinya tegaknya 45 derajat.



Sesuai jadwal pukul 19.45 KA Bengawan tiba di Stasiun Lempuyangan. Alhamdulillah bisa menginjakan kaki di Jogya lagi. Kita pun keluar dari Stasiun Lempuyangan dengan tujuan pertama ke Jl. Malioboro. Kita gak tahu harus berjalan ke arah mana untuk menuju ke sana dan akhirnya kita memutuskan untuk memesan Go-Car ke Malioboro, tarif Go-Car dari Stasiun Lempuyangan ke Malioboro Rp. 12.000 karena memang jaraknya tidak terlalu jauh tapi tentu saja kita harus berjalan dan menunggu driver agak jauh dari Stasiun Lempuyangan.
Nama drivernya Mas Adi, Mas Adi ini baik banget ngasih tau kalo mau makan malam baiknya kita tanya dulu harganya karena ditakutkan ada yang nembak harga, kita banyak tanya sama Mas Adi ini karena memang kita buta banget malam itu. Sampai Mas Adi bertanya mau turun di Malioboronya sebelah mana, kita pun bingung jawabnya.Hahaha. Akhirya Mas Adi nurunin kita di depan Mall Malioboro. Malam itu malam Sabtu, Malioboro ramai sekali, banyak pengamen nyanyi di pinggir jalan, tempat makan yang penuh dengan orang, para pngunjung yang hilir mudik entah mau kemana. Kita memutuskan untuk berjalan mencari angkringan. Akhirnya setelah berjalan cukup lumayan jauh kita memutuskan untuk makan malam di Angkringan Kopi Joss Pak Agus. Lokasinya lurus aja dari Malioboro arah Tugu Jogya. Makan malam berdua Rp. 44.000 dengan lauk pauk yang sudah sangat membuat kenyang, gak lupa buat nyobain kopi jossnya.



 Setelah perut keisi penuh dan sudah pukul 10 malam namun Jogya masih ramai sekali, kita memutuskan untuk check in ke penginapan yang kita sudah booking dari jauh hari. Yang jadi tantangan selanjutnya adalah dari Kopi Joss Pak Agus ke Penginapan seberapa jauh & naik apa. Kita memutuskan untuk buka Maps dan berujung kembali pada Go-Jek. Akhirnya kita order gojek ke Penginapan. Setelah agak drama dengan driver Gojek karena Lutfiah sempet nyasar sama drivernya akhirnya kita samapi di Deep Purple Home Stay. Penginapan ini rekomendasi dari Google, maksudnya kita nemu penginapan ini karena hasil googling.
Malam itu kita check in, face to face sama yang punya homestay dijelasin peraturannya dan fasilitasnya. Peraturannya gak susah banget kok cuma kalo keluar kamar, AC & Perangkat listriknya harus dalam keadaan mati. Nginep di sini murah banget cuma Rp. 75.000/malam dengan fasilitas Double Bed, AC, TV, Lemari, Wifi. Kamar mandi di luar tapi bersih koook.



Sabtu, 30 September 2017

Setelah semalam tidur nyenyak karena kelelahan selama perjalanan 8 jam di kereta, pagi ini energi telah terkumpul berkat sarapan pagi yang sangat murah di depan Homestay. Gue makan nasi dengan lauk lengkap cuma Rp.8.000. Fisik oke, perut kenyang saatnya menunggu jemputan Pak Bertus. Pak Bertus ini adalah Bapak yang mengantar kita untuk seharian ini, kita sewa mobil Pak Bertus dengan harga Rp. 500.000 sudah include BBM+Tip (exclude Biaya Parkir & Tiket Masuk Wisata yaah). Jam 07.00 Pak Bertus sudah menjemput di penginapan kita dengan Mobil Honda Brio putihnya.
Pak Bertus melaju mobilnya ke Wisata Alam Kalibiru, ini adalah destinasi pertama. Jalan menuju Kalibiru memakan waktu sekitar 30 menit, jalannya cukup menanjak dan masih banyak pepohonan yang bikin udaranya sejuk. Tiket masuk ke Wisata Alam Kalibiru yaitu Rp. 20.000/orang. Wisata Kalibiru ini adalah wisata foto, banyak spot-spot foto yang keren di sini, kita tinggal milih aja mau yang mana. Akhirnya kita memutuskan untuk foto di spot 2. Untuk foto di spot-spot tersebut kita dikenakan biaya Rp.15.000/orang. Setelah mengantre akhirnya kita dipakaikan pengaman dan mulai naik ke spot fotonya. Sudah ada fotograper yang standby mengarahkan gaya untuk mengambil foto kita. Setelah selesai kita harus nebus foto-foto itu dengan harga Rp.5.000/foto dan kita harus mengambil minimal 5foto. Akhirnya kita nebus 20 foto jadi Rp 100.000.
Setelah berpuas melihat pemandangan dan foto di Kalibiru kita melanjutkan perjalanan ke Magelang. Rasanya gak afdol kalo ke Jogya gak wisata Candi. Akhirnya mobil melaju ke Magelang menuju Candi Borobudur. Sekitar 1 jam perjalanan akhirnya kita sampai di Candi Borobudur. Harga tiket untuk wisatawan lokal yaitu Rp.40.000/orang & biaya parkir untuk mobil Rp. 10.000.
Jangan lupa siapain body lotion atau sunblock kalo ke sananya tengah hari kayak kita, karena kita di sana jam 11 siang - 1 siang. Tapi kalo masih takut matahari jangan khawatir banyak penjual topi atau penyewa payung. Setelah sampai di pucuk candi, berpuas dengan foto-foto dan cuci mata karena banyak bule tampan, kita memutuskan untuk kembali menuju tujuan wisata selanjutnya. Kalau dari Candi Borobudur jalur keluarnya kita akan diarahin ke tempat-tempat banyak pedagang jualan oleh-oleh khas jogya; dari mulai baju, celana, daster, celana, tas pokoknya macem-macem deh. Tahan dompet kalo lewat sini, karena masih ada hari esok di Jogya. Hehehehe.

Tujuan wisata yang ketiga adalah Bukit Rhema atau Gereja Ayam. Pasti tau doong ya itu adalah salah satu tempat syuting film AADC2. Perjalanan dari Magelang ke Bukit Rhema memakan waktu sekitar 45 menitan kalo gak salah. Setelah parkir mobil dengan biaya parkir Rp 10.000 lalu kita ditawari naik Jeep untuk sampai ke Bukit Rhema. Kita memilih untuk jalan kaki aja, karena menghemat pengeluaran. Hahaha. Ternyata jalannya gak terlalu jauh cuma agak terjal. Ohya, tiket masuk ke Bukit Rhema sebesar Rp 15.000/orang + Free Singkong Rebus. Akhirnya kita mencoba naik ke atas kepala ayamnya biar berasa kayak Cinta di film AADC. Kita gak lama di sini & gak tuker free singkongnya karena gerimis sudah mulai turun dan kita masih harus ke tujuan wisata yang lain.

Tujuan wisata yang keempat adalah Candi Prambanan tapi cuma sampe luarnya aja karena kesorean dan kita mau mengejar sunset di Candi Ratu Boko. Candi Prambanan ini dari kejauhan saja sudah kelihatan cantikknya. Jadi tujuan wisata keempat yaitu Candi Ratu Boko yang letaknya gak jauh dari Candi Prambanan. Katanya ada shuttle bus dari Candi Prambanan ke Candi Ratu Boko tapi kuran tahu harganya. Tiket masuk ke Candi Ratu Boko sama kayak masuk Candi Borobudur yaitu Rp 40.000 & tiket parkir mobil Rp 10.000.
Candi Ratu Boko ini juga salah dua (karena satunya adalah Bukit Rhema) tempat syuting AADC2. Ketika sore hari pengunjung di sini rame banget karena ini tempatnya oke banget untuk nikmatin matahari terbenam, pas di foto tuh siluet gitu. Sayang seribu sayang, kamera DSLR gue habis batre di sini. Jadi gue cuma bisa abadiin pake kamera HP gue yang gak seberapa itu. Sempet unmood sih tapi gapapa lah, toh kenangan yang diliat pake mata & direkam oleh otak sendiri bukankah lebih indah? :))

Dan waktu sudah sore menjelang malam, tubuh sudah bau keringat karena seharian wara-wiri tapi Pak Bertus mengajak ke tujuan wisata selanjutnya yang lagi hits katanya yaitu Tebing Breksi. Tiket parkir di sini Rp 5.000 & tiket masuknya adalah seikhlasnya! Kita tiba di sana pas magrib, di sana itu wisata tebing kayak tebing tinggi. Banyak anak tangga agar kita bisa tiba di atas & nikmatin Jogya dari atas kayak semacam bukit bintang. Bagus banget kelap kelip lampunya apalagi kelap kelip lampu dari Bandara Adi Sucipto. Kita gak terlalu lama di sana karena batre HP kita pun sudah hampir mati & badan rasanya sudah lelah sekali.

Weitss, ternyata masih ada tempat keenam yang harus kita kunjungi yang menurut Pak Bertus tempat tersebut juga sedang Hits di media sosial yaitu Taman Pinus Pengger. Kita tiba di sana sekita pukul 7 malam & tempat tersbut masih ramai. Taman Pinus ini sama seperti taman pinus lainnya namun di sini ada ukiran kayu atau rotan yang diberi lampu kelip sebagai background foto. Jujur aja kita gak terlalu bersemangat pas sampai karena kita gak bisa foto karena batre habis & merasa badan udah gak ada energi. Akhirnya kita memutuskan untuk makan jagung bakar & bakso bakar di warung di sekitaran tempat wisata pinus tersebut.

Ah, capek tapi menyenangkan satu hari bisa mengunjungi 6 tempat wisata sekaligus. Pak Bertus mengantar kita ke penginapan & menawari kita untuk berkeliling di sekitaran Maliobro atau Alun-Alun namun kita menolak karena badan rasanya sudah ingin mandi & beristirahat saja. Terima kasih Pak Bertus sudah mengantar seharian di Jogya :))

Minggu, 1 Oktober 2017
Setelah melaksanakan kewajiban dua rakaat subuh kita bersiap untuk menikmati Jogya pagi hari. Niat awal mencari sarapan pagi, tanpa mandi & berganti pakaian kita keluar penginapan dengan jalan kaki menuju jalan raya. Rasanya kok ingin naik becak ke Alun-Alun, akhirnya kita naik becak Rp 15.000 dari gang penginapan ke Alun-Alun. Ternyata Alun-Alun Selatan ini ramai sekali di minggu pagi, banyak yang berolah raga, banyak yang berdagang juga. Seneng banget kita jadi bisa jajan di sana, gue beli pecel sayur cuma Rp 3.000. Murah banget kaan. Terus udah bosen di Alun-Alun kita memutuskan untuk ke Kraton Jogya dengan jalan kaki. Jaraknya cukup lumayan kurang lebih 4km, kita pake google maps & nanya orang. Dari perjalanan kaki kita itu, kita melewati taman sari, tapi taman sari belum buka karena waktu itu masih terlalu pagi. Setelah berjalan cukup jauh melewati ini itu akhirnya kita sampai di Kraton Jogya dan belum buka. Kita nunggu sekitar 20 menit sampai tiket masuk dibuka, sempet minder liat orang-orang ke sana pakai baju bagus & make up, lah kita mandi aja belum malah masih pakai baju tidur yang ditutupi pakai outer doang, muka gak karuan pakai bedak aja gak. Hahaha. Harga tiket masuk Kraton Jogya sebesar Rp 7.500/orang & jika kita bawa kamera baik HP atau kamera lainnya dikenakan biaya tambahan Rp 1.000.
Puas berkeliling Kraton Jogya kita langsung ke Pasar Beringharjo untuk cari oleh-oleh. Dari Kraton Jogya kita gak sanggup untuk jalan kaki, jadi kita memutuskan untuk naik becak Rp 15.000. Berulang kali diingetin untuk hati-hati kalau berbelanja di Pasar Beringharjo karena banyak copet katanya. Oke setlah sampai & masuk ke dalam pasar kita lebih waspada sama HP & dompet yang kita bawa. Puas berkeliling di Pasar Beringharjo kita lanjut jalan kaki lurus menuju Jl. Malioboro. Hari itu Jogya panas banget, belum mandi makin keringetan. Hahaha. Akhirnya sampai di Jl. Malioboro sempet makan siang di sana lalu berfoto di Icon jalan Malioboro. Setelah itu kita segera kembali ke penginapan untuk bersiap karena kereta pulang hari ini jam 4 sore.

Mandi & packing segalanya sudah dirasa siap kita izin check out dan menuju stasiun lempuyangan dengan GoCar. Menukar boarding pass lalu menunggu kereta Gaya Baru Malam Selatan Datang. Selesai sudah liburan kali ini. Jogya selalu meninggalkan kesan di hati. Suatu saat kita akan kembali entah dengan siapa dan entah kapan tapi pasti kembali. :)))

Sabtu, 02 September 2017

Untukmu yang Tidak Ingin Kusebutkan Namanya Di sini


When We First Met


“Tuhan mempertemukan untuk sebuah alasan”

Malam itu takdir Tuhan mempertemukan aku dan kamu di sebuah tempat baru. Malam itu Tuhan sudah menggariskan untuk aku dan kamu bertemu. Selepas isya aku datang ke tempat perkumpulan komunitas yang akhir-akhir ini sedang diminati banyak anak muda, komunitas pecinta alam. Dua minggu dari malam ini aku akan mendaki gunung, pendakianku yang ketiga bersama teman kampus. Tujuanku datang ke komunitas itu adalah untuk mengambil kaos, jujur saja aku belum masuk sebagai anggota komunitas itu. Aku hanya memesan kaos pendakian di sana dan malam itu aku dan teman kuliahku yang memang sudah bergabung di komunitas tersebut datang untuk mengambil kaos yang katanya sudah jadi. Sesampainya di tempat komunitas pecinta alam (yang setelahnya aku tahu biasa disebut Basecamp), tidak terlalu ramai di sana hanya ada ketua komunitas itu dan dua orang yang belum ku kenal namanya. Aku masuk mengikuti temanku, menyalami satu persatu orang yang ada di sana. Namun kaos yang akan aku ambil itu belum ada di Basecamp, ternyata kaos tersebut masih ada di percetakan.
“Yaudah ayo, kita ambil dulu di percetakan kaosnya.” Kata salah satu orang yang bertanggung jawab atas pemesanan kaos itu, Indra namanya.
“Dimana? Ayo aja gue mah.” Temanku mengiyakan.
“Tapi berdua aja ya, biar kita satu motor aja.” Kembali Indra menambahkan. Mendengar Indra berbicara seperti itu otomatis aku yang akan tetap tinggal di Basecamp untuk menunggu.
“Lo gak apa-apa kan di sini?” Tanya temanku,
“Gak apa kok. Biar gue tunggu sini aja.” Ada rasa canggung sebetulnya jika aku harus menunggu di Basecamp dengan orang-orang yang baru aku kenal.
“Gue gak lama kok, Cuma ngambil terus balik ke sini lagi.” Temanku memastikan.
“Oke.”
Temanku dan Indra pun pergi setelah pamit. Ada hening yang cukup lama, hanya terdengar suara televisi yang sedang menayangkan acara talkshow. Aku pun tak banyak berbicara karena bingung juga membuka obrolan apa. Dalam hening percakapan dan suara tv sebuah motor memasuki halaman Basecamp. Seseorang datang yang kemudian memarkirkan motornya. Memasuki basecamp dengan mengucap salam. Aku kompak menjawab salam tersebut. Mukamu agak heran melihatku yang mungkin menurutmu terlihat asing. Kamu mengulurkan tanganmu dan akupun menyambutnya seraya menyebuutkan namaku. Kamu malam itu baru saja pulang kerja, karena pakaianmu begitu formal malam itu; celana bahan, kemeja dan jam tangan hitam di lengan kirimu. Kamu mengeluarkan sebungkus nasi bebek yang kemudian kamu serahkan ke teman-teman di sana untuk dimakan bersama. Aku ditawari namun aku hanya mengangguk “Iya, silakan.”
Kamu duduk di sebrang kananku, yang lain sibuk makan nasi bebekmu, aku sibuk menonton tv. Sesekali kamu bertanya tentang adega-adegan di tv yang tidak kamu mengerti atau tentang kalimat yang terlewat.
“Tadi dia bilang apa? Itu kenapa?” Aku hanya menjelaskannya singkat.
“Kha, si Ayra ini jomblo loh.” Kata ketua komunitas itu tiba-tiba, membuat aku menoleh ke arahnya.
“Oh ya?? Sama dong gue juga jomblo.” Kamu menjawab. Aku lagi-lagi hanya tersenyum, entahlah kalimat-kalimat serasa susah sekali diucapkan malam itu, karena aku merasa canggung.
“Yaudah sama Ayra aja nih, Kha.” Ketua komunitas itu melanjutkan.
“Jangan dulu deh Om, gue masih belum bisa serius soalnya.” Kamu menjawab seperti itu.
Aku menatapmu, “Sama Om, aku juga belum siap untuk serius.” Aku balas menjawab.
Tak berapa lama temanku dan Indra datang setelah mengambil kaos. Akhirnya aku bernafas lega, aku sedikit aman karena temanku sudah datang. Kaos pun dicek kuantitas dan kualitasnya, takut-takut ada yang reject. Kamu ikut untuk mengecek dan banyak bertanya “mau naik kemana? Kapan?” . Setelah selesai megecek aku dan temanku pamit untuk pulang.

Malam itu 12 Mei 2015 aku, Ayra Ramsha untuk kali pertama bertemu dengan kamu, Ahmad Sakha. Sebuah pertemuan yang sudah menjadi rencanaNya, sebuah pertemuan yang begitu terasa biasa saja tapi apakah akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya? Aku tidak tahu.


Jumat, 13 Maret 2015

Cerita Perjalanan : Wisata Pulau

Aku sudah bangun sejak pagi. Sudah mandi dengan air hangat, mudah sekali hanya tinggal memutar kran air ke arah kanan air hangat meluncur dengan hangatnya dari shower. Hari ini cukup cerah setelah aku mengintip dari jendela kamar. Aku keluar kamar untuk menikmati udara pagi itu sebelum turun untuk sarapan pagi. Aku berjalan dan aku baru tahu bahwa di belakang hotel tempatku menginap adalah lautan lepas dan kolam renang di dekat pantainya. Indahnya pemandangan pagi itu. Kalau saja aku tahu dari semalam aku akan berenang di kolam renang sambil menunggu sunrise.

Aku segera turun ke lantai 1 untuk menikmati sarapan pagi. Banyak sekali pilihannya dari nasi, roti, bubur ayam hingga bubur kacang ijo. Dibuat secara prasmanan dengan pemandangan restoran hotel yang menghadap ke arah pantai. Woow. Aku memilih makan nasi, secangkir kopi dan buah sebagai penutup. Ah, sarapan kali ini berbeda, indah sekali pemandangannya.

Jadwal hari ini adalah wisata pulau atau basah-basah tour. Setelah sarapan aku kembali ke kamar untuk bersiap pergi ke pulau-pulau. Seluruh peserta pertama kali diajak ke sebuah toko oleh-oleh bukan itu berbelanja oleh-oleh tetapi untuk membeli perlengkapan untuk di pantai nanti. Seperti kaca mata hitam, topi, baju ganti, sendal jepit ataupun sunblock.
Hari ini cerah sekali berbeda dari hari kemarin yang hujan. Aku bersyukur sekali. Setelah memakai safety jacket aku naik ke atas perahu yang berisi 15 orang. Mulailah perjalanan laut dimulai. Ombak lumayan tinggi membuat aku terus menyebut nama Tuhan berulang kali. Masya Allah lautnya sangat bersih sekali. Aku tiba di Pulau Lengkuas. Pulau Lengkuas terdapat mercusuar yang bisa dinaiki dengan ketinggian 500m. Dari atas kita bisa liat pemandangan lautan dari ketinggian. Pulau Lengkuas memiliki nama asli Light House. Pasirnya putih dan airnya jernih. Ada batu-batu granit menumpuk membuat aku merinding. Sebuah kekuasan Allah luar biasa sekali.

Jadwal makan siang ternyata tidak di Pulau Lengkuas. Makan siang di Pulau Kepayang jadi aku harus menyebrang laut lagi dengan perahu untuk makan siang. Aku melihat pulau pasir, pulau kecil tempat bertemu ombak. Katanya pulau itu pada malam hari menghilang tertutup air. Tiba di pulau kepayang lalu makan siang dengan cara prasmanan. Menunya makanan laut dari ikan, udang, baso ikan, kerang, dll. Tempat makannya pun dipinggir pantai dengan pemandangan yang luar biasa. Pasir putih dengan air yang jernih.

Setelah makan dan ibadah sholat dzuhur aku mengunjugi tempat konservasi penyu. Harus berjalan cukup jauh memasuki jalan yang penuh dengan pohon. Tempatnya sepi sekali. Aku sedikit kecewa karena tidak seperti yang aku bayangkan. Aku kira ada penyu besar dan aku bisa mengangkatnya. Tapi di sana hanya ada baby penyu. Setelah melihat tempat penangkaran penyu dari telur hingga baby penyu. Aku menikmati pantai dengan batu granit yang berdiri kokoh.

Hari beranjak sore sudah saatnya kembali. Di perjalanan pulang awak perahu berenang ke laut untuk mencari bintang laut dan tak butuh waktu lama bintang laut sudah di tangan si awak perahu itu. Itu pertama kali aku memegang bintang laut. Setelah puas berfoto, bintang laut itu pun dilepas kembali. Perahu sempat berhenti di tempat spot snorkling. Aku tidak snorkling karena ombak masih tinggi. Akhirnya hanya memberi makan ikan dari atas perahu. Ikan-ikan berkerumun, wah banyak sekali.

Setelah wisata pulau aku kembali ke hotel. Aku memang tidak basah-basahan tadi di pulau tapi aku harus mandi. Hahaha.
Istirahat setelah mandi sambil menonton acara tv kabel di kamar sambil menunggu makan malam di Restoran. Mungkin karena lelah aku ketiduran dan dibangunkan karena sudah mau berangkat makan malam.
Menu makan malam tak beda jauh masih seafood. Setelah makan malam di sebuah restoran yang aku lupa namanya lalu tujuan selanjutnya adalah belanja oleh-oleh. Toko oleh-olehnya antri sekali. Pukul 21.30 baru selesai. Besok adalah hari terakhir di Belitung. Ah, rasanya aku tak mau pulang.



























Sabtu, 14 Februari 2015

Cerita Perjalanan : Kekayaan Budaya Indonesia

Setelah dari SD Muhammadiyah Gantong perjalanan aku lanjutkan kembali. Saat itu maghrib telah tiba lalu aku melaksanakan kewajiban ibadahku di rumah adat Belitong yang berada di pusat kota Tanjungpandan.

Rumah adat Belitong sering disebut dengan rumah panggong. Rumah adatnya besar sekali dan terbuat dari kayu. Pengetahuan baru yang aku terima dari Bang Rian sang pemandu wisata itu adalah bahwa rumah adat belitong atau rumah panggong ini tidak memiliki kamar-kamar. Karena pada zaman dahulu biasanya masyarakat belitong tidur bersama satu keluarga tanpa ada kamar. Alasannya karena takut dengan hewan buas yang sewaktu-waktu masuk ke rumah. Uniknya semua dibuat dengan angka ganjil, semisal tangga depan berjumlah ganjil, jendela dan juga tiang penyanggah. Di teras depan disediakan kursi tamu, biasanya para tamu kalau datang duduk di teras depan saja. Masuk ke dalam ada ruangan luas tanpa sekat dan ruangan belakang tanpa sekat juga. Jika ada perayaan seperti pernikahan biasanya ruangan depan diisi oleh para laki-laki dan para wanita di ruangan belakang dekat dengan dapur. 

Di rumah panggong yang kali ini aku masuki terdapat replika berupa baju adat perkawinan belitong lengkap dengan kamar pengantin, makanan-makanan khas belitong, tempat mas kawin, alat-alat musik tradisional dan beberapa foto sejarah. Nah, menurut Bang Rian jika seorang anak belitong menikah ia harus punya rumah dulu karena rumah adat belitong kan tidak ada kamar. Tapi kalau zaman sekarang melihat rumah-rumah masyarakat belitong sudah jarang sekali ada yang menggunakan rumah panggong. Tapi uniknya rumah masyarakat belitong sekarang ini setelah aku perhatikan adalah sebagian besar semua beratapkan seng. Rumah sebesar apapun pasti atapnya seng. Setelah aku tanyakan kepada Bang Rian mengapa tidak menggunakan genteng, beliau menjawab bahwa dahulu pada saat zaman penjajahan belanda rumah harus beratapkan seng supaya masyarakat tidak tidur siang dan harus bekerja. Karena efek panas yang timbul dari seng saat siang hari. Setelah aku perhatikan lagi rumah masyarakat belitong ini tidak melebar ke samping melainkan memanjang ke belakang.

Setelah acara doorprize dan game saatnya menyantap makan malam. Seluruh peserta travel diatur untuk duduk memanjang lalu kemudian dibagi menjadi satu kelompok yang terdiri dari empat orang. Aku bingung kok mau makan malam saja repot begini. Ternyata malam itu akan makan dengan adat khas belitong yaitu makan bedulang. Makan bedulang adalah cara makan khas belitung yang disajikan di atas nampan. Nampan yang berisi lauk pauk ditutup oleh tudung saji yang berwarna merah. Tempat nasi yang bawahnya ada empat piring kosong yang ditumpuk, empat gelas air teh hangat, 4 kue bingke. Cara makannya unik sekali di antara 4 orang dalam kelompok itu yang usianya paling muda harus mengambil piring paling bawah, lalu piring tersebut dibersihkan dengan serbet lalu diberikan kepada orang yang paling tua, begitu seterusnya sampai orang tua ketiga. Yang paling tua usianya boleh mengambil nasi dan lauk pauk lebih dulu. Aku yang memang paling muda kebagian jatah terakhir. Makannya tak menggunakan sendok dan hanya ada satu mangkuk air cuci tangan (kobokan) lagi-lagi yang paling tua yang boleh cuci tangan lebih dulu dan mengelap diserbet lebih dulu. Aku kebagian yang terakhir. Sayangnya aku lupa apa saja nama lauk yang disajikan. Makan sambil diiringi oleh musik melayu khas belitong dengan gesekan biola dan keyboard. Suasana makan malam saat itu penuh keakraban. Bahagia sekali.

Tak terasa sudah pukul 21.30, setelah kenyang menyantap makan malam seluruh peserta travel diberikan kartu atau kunci kamar hotel. Dan tujuan selanjutnya adalah Bahamas Hotel and Resort. Good night :)

replika yang ada di rumah panggong


ini cuma replika. Jangan dimakan :p

mari makan bedulang :)


blur


with mama

my room 225 :)

Bahamas Hotel and Resort

depan kamar banget nih. Haha